Goldman Sachs Group Inc. Menurunkan Peringkat Rekomendasi Saham Indonesia Menjadi Underweight

Berita51 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | JAKARTA, 29-1-2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan dalam dua hari perdagangan terakhir seiring memburuknya sentimen investor terhadap pasar saham Indonesia. Pelemahan ini dipicu kombinasi faktor eksternal dan internal, mulai dari penurunan rekomendasi saham Indonesia oleh Goldman Sachs menyusul peringatan MSCI terkait risiko kelayakan investasi (investability), hingga meningkatnya kekhawatiran akan potensi arus keluar dana asing. Sentimen negatif tersebut diperkuat oleh kondisi pasar global yang masih diliputi ketidakpastian, di tengah sikap investor yang semakin selektif terhadap pasar negara berkembang, sehingga mendorong aksi jual besar-besaran di pasar saham domestik.

Kekhawatiran investor terhadap pasar saham Indonesia semakin memuncak setelah Goldman Sachs Group Inc. menurunkan peringkat rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight — sebuah posisi yang menunjukkan pandangan kurang optimistis dibanding pasar secara keseluruhan. Langkah ini terjadi menyusul peringatan serius dari index provider global MSCI Inc. terkait investability atau kelayakan investasi pasar modal Tanah Air.

banner 336x280

Dalam laporan risetnya, Goldman Sachs menilai bahwa tekanan dari potensi downgrade status pasar Indonesia — dari emerging market (pasar berkembang) ke frontier market (pasar perbatasan) — berpotensi memicu arus keluar modal besar-besaran dari pasar. Dalam skenario ekstrem, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI diperkirakan bisa melepas aset Indonesia lebih dari USD 13 miliar, termasuk sekitar USD 7,8 miliar dalam bentuk saham lokal.

Penurunan peringkat oleh Goldman Sachs ini dampaknya langsung terasa di lantai bursa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam, mencatat salah satu penurunan paling dalam dalam beberapa tahun terakhir, bahkan memicu trading halt atau penghentian sementara perdagangan akibat tekanan jual yang hebat. Kejatuhan ini juga memengaruhi nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS.

MSCI dan Masalah Free Float

Akar dari gejolak pasar ini bermula dari peringatan MSCI yang menyatakan bahwa pasar modal Indonesia menghadapi masalah fundamental investability. MSCI menyoroti struktur kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi di tangan segelintir pemegang saham besar, ditambah dengan jumlah free float yang rendah — saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan di pasar publik — sehingga dapat menghambat likuiditas dan menarik investor global.

Akibatnya, MSCI menghentikan sementara pembaruan indeksnya yang mencakup saham-saham Indonesia, sambil menunggu regulator dan pelaku pasar menyelesaikan kekhawatiran tersebut sebelum penilaian ulang pada Mei mendatang. Ketiadaan kepastian ini membuat bank-bank investasi global, termasuk UBS, juga menurunkan rekomendasi pasar Indonesia.

Gejolak Pasar dan Reliabilitas Ekonomi Indonesia

Situasi ini memunculkan kekhawatiran lebih luas soal persepsi risiko investasi di Indonesia. Kapitalisasi pasar yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang stabil selama beberapa dekade membuat pasar saham Indonesia pernah menjadi favorit investor asing di kawasan Asia Tenggara. Namun, ketidakpastian terkait transparansi data, struktur kepemilikan saham, serta reformasi pasar modal kini mengaburkan kepercayaan tersebut.

Kondisi ini juga terjadi di tengah tekanan makroekonomi global. Volatilitas pasar keuangan besar-besaran sejak 2022 akibat kekhawatiran inflasi, suku bunga tinggi, serta gejolak geopolitik (termasuk konflik di Timur Tengah dan perang Rusia–Ukraina) telah membuat investor sangat sensitif terhadap risiko pasar negara berkembang. Dalam konteks ini, kekhawatiran MSCI terhadap pasar saham Indonesia dianggap sebagai sinyal peringatan nyata yang tidak hanya berdampak lokal tetapi juga merembet ke sentimen global.

Tanggapan Pasar dan Tantangan Ke Depan

Sementara itu, analis dari Citigroup justru menilai bahwa penangguhan indeks oleh MSCI bersifat sementara dan bisa menjadi peluang beli di sektor-sektor tertentu, seperti perbankan dan komoditas berkualitas. Namun, konsensus pasar tetap menunggu kejelasan regulasi dari otoritas terkait untuk mengembalikan kepercayaan investor.

Regulator Indonesia telah menyatakan kesiapan untuk berdialog dengan MSCI dan mengambil langkah-langkah perbaikan, termasuk kemungkinan revisi aturan terkait kepemilikan saham dan persyaratan free float. Masa transisi ini dipandang krusial untuk mencegah konsekuensi yang lebih dalam terhadap arus modal masuk dan pertumbuhan pasar modal Indonesia.

Kejadian di pasar saham Indonesia mencerminkan dinamika yang lebih luas di pasar negara berkembang. Dalam beberapa tahun terakhir, investor global semakin menuntut standar transparansi, struktur pasar yang efisien, dan tata kelola perusahaan yang kuat sebelum menempatkan modalnya. Tekanan ini diperparah oleh tren kenaikan suku bunga di banyak negara maju sebelumnya, di mana investor kini membandingkan imbal hasil akhir di pasar berkembang dengan peluang yang lebih aman di pasar maju. Ketidakpastian ekonomi global, ditambah gejolak geopolitik yang terus berlangsung, membuat modal asing semakin selektif dalam memilih tujuan investasi. Indonesia, dengan semua potensinya, harus segera menyesuaikan struktur pasar modalnya agar tidak tertinggal dalam persaingan global ini.

(Red/HB)

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *