IKATAMUR Tolak Wacana Penghapusan Festival Teater Pelajar Jakarta: “Jangan Putus Mata Rantai Regenerasi Teater Jakarta”

Intertement450 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta, 8 September 2026 — Ikatan Teater Jakarta Timur (IKATAMUR) secara tegas menolak rencana penghapusan Festival Teater Pelajar Jakarta.

 

banner 336x280

IKATAMUR menilai Festival Teater Pelajar bukan sekadar agenda perlombaan seni, melainkan ruang pendidikan, pembentukan karakter, pengembangan kreativitas, apresiasi, ekspresi, dan yang paling penting, mata rantai regenerasi teater di Ibu Kota.

 

Menurut IKATAMUR, jika terdapat persoalan dalam penyelenggaraan festival, langkah yang semestinya dilakukan adalah evaluasi dan perbaikan, bukan menghapus program yang telah menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda.

 

“Festival Teater Pelajar boleh dievaluasi, konsepnya boleh diperbaiki, penyelenggaraannya boleh diperkuat. Tetapi jangan dihapus. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah festival, melainkan masa depan regenerasi teater Jakarta,” tegas Ketua IKATAMUR, Abel Ghaib.

 

IKATAMUR melihat posisi pelajar sangat strategis dalam ekosistem teater.

 

Pelajar berada di antara fase pengenalan teater pada usia anak dan proses pengembangan menuju jenjang pemuda serta profesional. Pada fase inilah kemampuan, mentalitas, kreativitas, kedisiplinan, dan keberanian berkesenian dibentuk.

 

“Pelajar berada pada fase pembinaan yang paling serius dan strategis. Dampaknya juga paling luas karena menyentuh sekolah, guru, komunitas, dan ekosistem teater secara keseluruhan,” ujar Abel.

 

Menurutnya, regenerasi kesenian tidak bisa muncul secara tiba-tiba.

 

Anak mengenal teater. Pelajar membangun kemampuan. Pemuda mengembangkan pengalaman. Seniman kemudian lahir dari proses panjang tersebut.

 

Jika salah satu mata rantai itu diputus, maka keberlanjutan regenerasi akan menghadapi persoalan.

 

“Jangan berpikir seniman masa depan muncul begitu saja. Mereka lahir dari proses. Ada anak yang diperkenalkan pada teater, ada pelajar yang diberi ruang untuk berproses, kemudian tumbuh menjadi pemuda dan akhirnya menjadi seniman. Festival Pelajar adalah salah satu ruang penting dalam proses tersebut,” kata Abel.

 

IKATAMUR memahami bahwa pemerintah memiliki kewenangan untuk melakukan evaluasi maupun rasionalisasi program.

 

Namun, menurut IKATAMUR, kebijakan tersebut harus mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem kebudayaan.

 

Jika pemerintah tetap harus melakukan rasionalisasi terhadap program festival, IKATAMUR mengusulkan agar Festival Teater Anak yang diintegrasikan atau disederhanakan, bukan Festival Teater Pelajar.

 

Usulan tersebut bukan berarti mengabaikan pentingnya teater anak.

 

Pembinaan teater anak tetap dapat dilakukan melalui sekolah, sanggar, komunitas, dan berbagai program edukasi seni.

 

Sementara Festival Teater Pelajar memiliki fungsi yang lebih strategis karena menjadi jembatan menuju proses regenerasi teater pemuda dan seniman masa depan.

 

“Teater Pelajar adalah masa depan. Anak hari ini mengenal teater, pelajar hari ini membangun kemampuan, pemuda esok menjaga keberlanjutan, dan seniman masa depan lahir dari proses itu,” tegas Abel.

 

IKATAMUR menegaskan bahwa persoalan ini bukanlah pertentangan antara teater anak dan teater pelajar.

 

Yang menjadi perhatian adalah bagaimana pemerintah menjaga keberlanjutan seluruh mata rantai pembinaan teater.

 

IKATAMUR mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan yang tidak hanya mempertimbangkan kegiatan dalam satu tahun anggaran, tetapi juga melihat dampak kebijakan tersebut terhadap regenerasi kesenian dalam lima, sepuluh, bahkan puluhan tahun ke depan.

“Jangan hanya menghitung berapa kegiatan yang bisa dihemat. Hitung juga berapa generasi yang bisa kehilangan ruang untuk belajar dan berkembang,” ujar Abel.

Atas dasar tersebut, IKATAMUR mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk tidak menghapus Festival Teater Pelajar Jakarta.

IKATAMUR meminta:

1. Festival Teater Pelajar Jakarta tetap dipertahankan.

2. Dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap konsep dan pelaksanaan festival.

3. Sistem penyelenggaraan diperbaiki agar lebih efektif, transparan, dan berkualitas.

4. Pembinaan pelajar melalui teater diperkuat dan diperluas.

5. Pemerintah membuka dialog dengan komunitas, seniman, guru, pelajar, serta asosiasi teater di lima wilayah administrasi Jakarta.

6. Jika rasionalisasi tidak dapat dihindari, Festival Teater Anak yang dipertimbangkan untuk diintegrasikan atau disederhanakan, bukan Festival Teater Pelajar.

IKATAMUR menilai pembangunan kebudayaan tidak boleh berhenti pada keberhasilan menyelenggarakan kegiatan.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan siapa yang akan melanjutkan kehidupan seni dan kebudayaan Jakarta di masa depan.

“Teater mendidik, menggugah, dan memanusiakan. Panggung hari ini adalah sekolah bagi seniman masa depan. Kalau ruang belajarnya kita hilangkan, bagaimana kita berharap memiliki generasi penerus?” tegas Abel.

Karena itu, IKATAMUR meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka ruang pembicaraan sebelum mengambil keputusan terkait keberlanjutan Festival Teater Pelajar Jakarta.

“Kami tidak anti-evaluasi. Kami tidak anti-perubahan. Kami justru ingin Festival Teater Pelajar menjadi lebih baik. Tetapi kalau masalahnya adalah penyelenggaraan, perbaiki penyelenggaraannya. Kalau masalahnya adalah konsep, perbaiki konsepnya. Kalau masalahnya adalah anggaran, cari formula yang lebih efektif. Jangan menjadikan penghapusan sebagai satu-satunya solusi,” kata Abel.

(red)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *