Oleh: Nandan Limakrisna*
Catatan “Diserang Habis-Habisan, Indonesia Tidak Jatuh” mengajak kita melihat Indonesia sebagai bangsa yang memiliki daya tahan menghadapi berbagai tekanan dan gejolak, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Pandangan tersebut patut diapresiasi karena mengingatkan kita bahwa Indonesia bukanlah negara yang mudah runtuh hanya karena perubahan situasi global atau berbagai narasi yang berkembang di ruang publik.
Namun, di balik optimisme tersebut, ada ruang diskusi lain yang menurut saya tidak kalah penting untuk diperhatikan. Bukan untuk membantah atau menegasikan pandangan tersebut, melainkan untuk memperluas perspektif mengenai tantangan yang masih dihadapi perekonomian nasional. Sebab, ketahanan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kemampuannya bertahan, tetapi juga dari kekuatan fondasi yang menopang ketahanan itu sendiri.
Dalam konteks itulah saya memandang bahwa ada pertanyaan yang lebih mendasar dan perlu menjadi perhatian bersama.
Benar atau tidaknya ada “serangan terhadap Indonesia”, menurut saya bukan itu pertanyaan utamanya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Mengapa Indonesia bisa terguncang hanya karena perubahan persepsi pasar?
Mengapa satu laporan lembaga pemeringkat, satu artikel media internasional, atau satu gelombang capital outflow bisa membuat rupiah dan pasar keuangan bergejolak?
Salah satu jawabannya terletak pada struktur ekonomi kita yang masih terlalu bergantung pada faktor eksternal.
Selama pasar rakyat belum kuat, selama UMKM belum benar-benar menjadi tulang punggung perekonomian nasional, dan selama uang lebih banyak berputar di sektor keuangan daripada sektor riil, maka setiap guncangan global akan terasa besar dampaknya bagi perekonomian dalam negeri.
Ketergantungan terhadap sentimen pasar, arus modal asing, dan persepsi investor menunjukkan bahwa fondasi ekonomi rakyat masih perlu diperkuat. Akibatnya, perubahan kecil yang terjadi di luar negeri sering kali menimbulkan efek yang cukup besar di dalam negeri.
Karena itu, perdebatan tentang ada atau tidaknya serangan asing tidak boleh membuat kita lupa pada pekerjaan utama bangsa ini.
Membangun kedaulatan ekonomi rakyat.
Melalui Snowball Business Model (SBM), rakyat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi produsen dan promotor ekonomi dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Jika ekonomi rakyat kuat, pasar domestik akan kuat.
Jika pasar domestik kuat, rupiah akan lebih kuat.
Jika rupiah kuat, Indonesia tidak perlu takut pada narasi apa pun.
Karena benteng ekonomi yang sesungguhnya bukan berada di pasar keuangan.
Benteng ekonomi yang sesungguhnya adalah rakyat yang produktif, sejahtera, dan memiliki pasar bagi produknya sendiri.
Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa tinggi indeks sahamnya atau seberapa besar arus modal yang masuk, melainkan oleh seberapa kuat rakyatnya memproduksi, berdagang, berinovasi, dan saling menghidupkan pasar dalam negerinya sendiri.
Itulah kedaulatan ekonomi yang sesungguhnya.
#snowballbusinessmodel
#sbmsolusiekonomibangsa
*) Nandan Limakrisna adalah Guru Besar Ilmu Manajemen di Universitas Persada Indonesia YAI (UPI YAI) yang menaruh perhatian pada kajian strategi bisnis, pemasaran, serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Ia aktif menulis dan memberikan pemikiran mengenai pemberdayaan UMKM, model bisnis kolaboratif, dan penguatan ekonomi rakyat. Melalui berbagai tulisan dan forum akademik, ia juga memperkenalkan konsep Snowball Business Model (SBM) sebagai pendekatan pengembangan ekosistem ekonomi komunitas. Pemikirannya banyak menyoroti pentingnya sinergi antara industrialisasi nasional dan ekonomi rakyat dalam pembangunan ekonomi Indonesia.



















