Sejak Hari Kedua Gempa hingga Kamis Ini, Polri Hadir Pulihkan Trauma Warga Flores, 2.322 Pengungsi Sudah Dilayani

Polri438 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta – Hari ini, Kamis (20/8/2026), di Kabupaten Manggarai, Pamendal Satgas SAR Korbrimob Polri Kombes Pol. Hasripuddin, S.I.K., bersama personel Satgas SAR melaksanakan trauma healing kepada anak-anak di Posko Pengungsian Barang Kolong, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reo. Anak-anak diajak berinteraksi dalam suasana yang nyaman dan menyenangkan untuk membantu mengurangi rasa takut dan kecemasan setelah mengalami gempa.

 

banner 336x280

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari operasi kemanusiaan Polri yang sejak hari kedua setelah gempa telah mengerahkan tim psikologi untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat terdampak, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.

 

Hingga Rabu (19/8/2026), Tim Trauma Healing Psikologi Polri telah memberikan pendampingan kepada 2.322 masyarakat di 14 pos pengungsian di wilayah hukum Polda NTT.

 

Sebanyak 27 personel diterjunkan, terdiri dari:

 

* 12 personel Psikologi SSDM Polri;

* 5 personel Psikologi Polda Jawa Timur;

* 4 personel Psikologi Polda Bali;

* 6 personel Psikologi Polda NTB.

 

Pengerahan tim dilakukan melalui Biro Psikologi SSDM Polri di bawah kendali operasi Kapolda NTT. Dalam pelaksanaannya, tim psikologi Polri berkoordinasi dan bekerja bersama pemerintah daerah serta stakeholder terkait, termasuk Dinas Sosial di sejumlah wilayah, untuk menentukan titik prioritas dan kebutuhan pendampingan masyarakat.

 

Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, S.I.K., M.I.Kom., mengatakan trauma healing merupakan bagian penting dari operasi kemanusiaan karena dampak bencana tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga secara psikologis.

 

“Sejak hari kedua setelah gempa, Polri sudah menerbangkan tim psikologi untuk hadir di tengah masyarakat. Kita tidak hanya datang membawa bantuan dan melakukan SAR, tetapi juga membantu memulihkan rasa aman dan kondisi psikologis saudara-saudara kita yang terdampak.”

 

Menurut Trunoyudo, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang mendapatkan perhatian khusus.

 

“Anak-anak mungkin belum bisa menjelaskan rasa takutnya dengan kata-kata. Karena itu, trauma healing dilakukan dengan pendekatan yang sederhana dan menyenangkan, bermain bersama, berinteraksi, mendengarkan dan membuat mereka kembali merasa aman.”

 

2.322 Orang di 14 Pos Pengungsian

 

Hingga 19 Agustus, pelayanan trauma healing telah menjangkau 14 pos pengungsian dengan total 2.322 orang.

 

Pelayanan dilakukan dengan menyesuaikan kondisi masyarakat di setiap lokasi. Tim psikologi bersama Polda NTT dan stakeholder melakukan pendataan secara berkala untuk menentukan titik pelayanan berikutnya.

 

Di Kabupaten Sikka, kegiatan trauma healing juga dilaksanakan bersama Dinas Sosial, sementara kebutuhan psikologis di kabupaten lainnya terus didata.

 

“Data ini terus kami perbarui. Kondisi di setiap kabupaten berbeda, sehingga tim bersama Polda dan stakeholder melakukan pendataan agar personel trauma healing ditempatkan di titik yang memang membutuhkan,” ujar Trunoyudo.

 

Pemulihan Tidak Hanya Soal Kebutuhan Fisik

 

Di Manggarai, kegiatan trauma healing berjalan beriringan dengan pelayanan kebutuhan dasar masyarakat.

 

Sebelum pendampingan psikologis, personel Satgas SAR Korbrimob memberikan pelayanan sarapan pagi kepada masyarakat di Posko Pengungsian Barang Kolong. Kehadiran personel di lokasi menjadi bagian dari upaya memberikan rasa aman sekaligus membantu memenuhi kebutuhan warga selama berada di pengungsian.

 

Trunoyudo menegaskan bahwa pemulihan masyarakat membutuhkan proses dan tidak berhenti setelah tahap pencarian maupun evakuasi selesai.

 

“Operasi kemanusiaan tidak selesai ketika korban sudah dievakuasi. Pemulihan juga membutuhkan waktu. Karena itu, Polri akan terus mendampingi masyarakat, termasuk melalui trauma healing, sampai kondisi mereka berangsur pulih dan kembali merasa aman.”

 

Polri akan terus memperbarui data dan memperluas pelayanan trauma healing berdasarkan kebutuhan di lapangan, dengan perhatian khusus kepada anak-anak, lansia, keluarga korban dan kelompok rentan lainnya.

 

Sejak hari kedua gempa hingga hari ini, Polri terus hadir. Bukan hanya mencari dan menyelamatkan, tetapi juga mendampingi, mendengarkan dan membantu masyarakat Flores bangkit dari trauma bencana.

 

Karena pemulihan bukan hanya tentang kembali berdiri, tetapi juga kembali merasa aman.

(red)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *