Tempe, Pinokio, dan P3 : Alegori Pengelolaan Rumah Susun yang Gelap. Pembusukan Sistemik Karena Sejak Awal, Kegelapan itu Dibiarkan Tumbuh.

Berita55 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta, 15-1-2026 – Di atas piring saji, tempe tampak rapi—mengkilap oleh kecap, tersusun manis, seolah tak ada masalah. Namun semua orang tahu, tempe adalah hasil proses fermentasi. Ia terbentuk dalam gelap, pelan, nyaris tak terlihat. Bila prosesnya benar, ia bergizi. Bila salah, ia busuk—dan berbahaya.

Di foto yang sama, berdiri Pinokii—boneka kayu dengan hidung memanjang. Simbol klasik kebohongan. Semakin sering ia berdusta, semakin panjang hidungnya. Ia terlihat lugu, tapi kita tahu: kebohongan yang dibiarkan akan tumbuh.

banner 336x280

Lalu apa kaitannya dengan pengelolaan rumah susun di Indonesia ?

Di situlah P3 (Persatuan Pertempean Pinokio) masuk ke dalam cerita.
Pengelolaan yang Menyerupai Fermentasi Gelap
Dalam banyak kasus rumah susun di Indonesia, operasional P3 berjalan :
❌ Tidak terbuka
❌ Tidak transparan
❌ Takut direkam, takut didokumentasikan
❌ Anti pertanyaan warga, padahal menjalankan layanan publik

Pengelolaan dilakukan di balik pintu rapat. Laporan keuangan tak pernah dipaparkan secara utuh. Rapat umum hanya formalitas. Notulen tidak dibagikan. Kontrak kerja sama disembunyikan. Warga yang bertanya dicap “provokator”. Beberapa kasus terjadi anggota (atau ketua) tim pengawas diblokir oleh tim pengurus.

Persis seperti tempe yang difermentasi dalam gelap, proses ini terus berjalan—hari demi hari, tahun demi tahun—tanpa pengawasan publik.

Masalahnya, warga membiarkan.

Pinokio Bernama P3
Di sinilah Pinokio relevan.
Banyak P3 mengaku :
“Ini demi kepentingan bersama”
“Semua sudah sesuai aturan”
“Tidak ada yang perlu disembunyikan”

Namun setiap kali diminta :
* Rekaman rapat → dilarang
* Audit independen → ditolak
* Dokumen kontrak → dirahasiakan
* Transparansi IPL → dipersulit

Hidung Pinokio itu memanjang.
Semakin lama kebohongan dipertahankan, semakin kompleks dampaknya :
* Konflik antarwarga
* Beban IPL tidak rasional
* Kualitas layanan menurun
* Kerusakan gedung tak tertangani
* Dana bersama tak jelas rimbanya

Ketika Warga Diam, Kegelapan Berproses

Inilah inti persoalan.
Operasional yang tidak terbuka, tidak transparan, dan takut direkam adalah tanda kerja kegelapan.

Kegelapan tidak datang tiba-tiba.
Ia berproses. Dan proses itu hanya bisa terjadi karena satu hal : dibiarkan oleh warga.

Warga memilih diam karena :
* Takut dikucilkan
* Takut dianggap ribut
* Takut berhadapan dengan pengurus
* Takut “nanti saja”

Fatal Dulu, Baru Ribut.
Sejarah rumah susun di Indonesia berulang dengan pola yang sama :
* Kebocoran besar → baru ribut
* Lift rusak total → baru protes
* Dana habis → baru minta audit
* Bangunan bermasalah → baru lapor pemerintah
* Konflik hukum → baru sadar hak dilanggar

Padahal tanda-tandanya sudah ada sejak lama.
Seperti tempe yang sudah berbau,
seperti hidung Pinocchio yang sudah memanjang.

Transparansi atau Pembusukan

P3 bukan organisasi privat biasa.
Ia mengelola hak hidup orang banyak.
Karena itu :
* Transparansi bukan pilihan, tapi kewajiban
* Rekaman bukan ancaman, tapi alat kontrol
* Partisipasi warga bukan gangguan, tapi inti demokrasi pengelolaan

Jika pengelolaan rumah susun terus dijalankan dalam gelap, maka hasilnya bukan tempe bergizi—melainkan pembusukan sistemik.

Dan saat akibatnya sudah fatal,
jangan heran bila warga baru ribut.
Karena sejak awal, kegelapan itu dibiarkan tumbuh.

*** Tulisan ini bertujuan edukasi warga negara dan perbaikan pemerintahan, bila ada koreksi, sanggahan, klarifikasi , silahkan menghubungi redaksi untuk perbaikan.

(Red/HB)

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *