Sebaik-Baik Manusia Adalah yang Paling Bermanfaat bagi Sesama : Pelajaran Universal dari Tiga Agama Besar

Berita182 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta, 26-3-2026 – Di tengah masyarakat modern yang kerap mengukur kemuliaan seseorang dari jabatan, kekayaan, atau popularitas, ketiga agama besar dunia—Islam, Buddha, dan Kristen—menawarkan perspektif yang sama mendalam: **kemuliaan sejati diukur dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada orang lain**. Bukan dari apa yang dimiliki, melainkan dari apa yang diberikan. Pesan ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan panggilan praktis untuk hidup yang penuh kasih dan pelayanan.

Doktrin ini paling ringkas diungkapkan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang populer: **“Khairunnas anfa’uhum linnas”**—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Hadis ini menjadi benang merah yang menghubungkan ajaran tiga agama, menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan yang universal ini melampaui batas agama dan budaya.

banner 336x280

Ajaran Islam : Manfaat sebagai Ukuran Kemuliaan

Dalam Islam, hadis “Khairunnas anfa’uhum linnas” menegaskan bahwa derajat seseorang di hadapan Allah bukan diukur dari pangkat atau harta, melainkan dari kontribusi nyata yang diberikan kepada sesama. Manfaat itu bisa berupa apa saja: memberi makan orang lapar, melunasi utang orang yang kesulitan, mengajarkan ilmu, atau sekadar menyebarkan rasa aman dan ketenangan di lingkungan sekitar.

Hadis ini mengajak umat Islam untuk fokus pada **adab sosial yang baik** dan tindakan konkret. Bukan sekadar niat baik, melainkan perbuatan yang langsung dirasakan orang lain. Dengan demikian, seseorang tidak hanya “baik” secara pribadi, tetapi juga menjadi berkah bagi masyarakat.

Ajaran Buddha: Karuna dan Metta sebagai Jalan Pencerahan

Agama Buddha menempatkan **karuna** (belas kasih/compassion) dan **metta** (cinta kasih/kindness) sebagai inti praktik spiritual. Buddha Gautama sendiri berulang kali menyatakan tujuan hidupnya: “Untuk kebaikan banyak orang, untuk kebahagiaan banyak orang, karena belas kasih terhadap dunia.” Pernyataan ini muncul dalam berbagai sutta saat Beliau memutuskan untuk mengajarkan Dhamma setelah mencapai pencerahan.

Dalam **Sigalovada Sutta** (Digha Nikaya 31), Buddha mengajarkan empat cara yang membuat “dunia berputar”: kemurahan hati (generosity), kata-kata yang baik (kind speech), perilaku yang bertujuan kesejahteraan orang lain (conduct for others’ welfare), dan ketidakberpihakan (equanimity). Empat prinsip ini selaras dengan semangat “memberi manfaat” dalam hadis Islam.

Buddha juga menekankan **ahimsa** (tidak menyakiti) dan sikap ramah agar tidak menjadi beban bagi orang lain. Contoh tindakan nyata yang diajarkan mencakup memberi dana (dana) kepada yang membutuhkan, mengajarkan Dhamma kepada yang haus ilmu, serta tindakan kecil yang meringankan penderitaan. Jalan menuju pencerahan (enlightenment) justru melalui **selfless service**—pelayanan tanpa pamrih yang mengurangi penderitaan makhluk lain.

Ajaran Kristen: Kasih sebagai Bukti Iman Sejati

Dalam ajaran Kristen, kasih adalah inti iman. Yesus Kristus sendiri menjadi teladan tertinggi: “Bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Markus 10:45). Perintah utama kedua setelah mengasihi Tuhan adalah **“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”** (Matius 22:39; Markus 12:31).

Alkitab secara tegas menyatakan bahwa kemuliaan seseorang terlihat dari perbuatan baik yang bermanfaat bagi orang lain. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatan baikmu dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Matius 5:16). Rasul Paulus menegaskan: “Janganlah kamu mencari kepentinganmu sendiri, tetapi kepentingan orang lain” (1 Korintus 10:24).

Contoh paling nyata terdapat dalam **Perumpamaan Orang Samaria yang Baik** (Lukas 10:25-37) dan ajaran Yesus dalam Matius 25:35-40: memberi makan orang lapar, memberi minum orang haus, menolong yang kesulitan—semua itu dianggap sebagai pelayanan langsung kepada Tuhan. “Barangsiapa memberi kepada orang miskin, ia meminjamkan kepada TUHAN” (Amsal 19:17). Nilai seseorang bukan dari status sosial, melainkan dari kasih dan pelayanan praktis.

Kesamaan yang Menyatukan

Meski lahir dari tradisi yang berbeda, ketiga agama ini bertemu pada satu titik: **kemuliaan manusia terletak pada manfaat yang diberikan kepada sesama**. Baik melalui hadis Nabi, ajaran Buddha tentang karuna-metta, maupun perintah kasih Yesus, semuanya mengajak umat beragama untuk:

– Memberi manfaat dengan harta, ilmu, tenaga, atau kebaikan sekecil apa pun.
– Menjaga adab sosial agar tidak menyusahkan orang lain.
– Menjadi teladan nyata melalui tindakan, bukan hanya kata-kata.

Di era digital dan individualisme saat ini, pesan ini semakin relevan. Menjadi “yang paling bermanfaat” bisa dimulai dari hal sederhana: membantu tetangga, berbagi pengetahuan, atau sekadar mendengarkan dengan empati. Ketiga agama mengingatkan bahwa hidup yang bermakna bukan tentang seberapa banyak yang kita terima, melainkan seberapa banyak yang kita berikan.

**Sumber Literatur:**

– Hadis Nabi Muhammad SAW: *Khairunnas anfa’uhum linnas* (خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ), diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani dan Daruquthni (juga disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad).
– Sigalovada Sutta (Digha Nikaya 31), Tipitaka Pali, yang membahas empat cara membuat dunia berputar serta prinsip karuna dan metta.
– Alkitab (Terjemahan Bahasa Indonesia): Matius 22:39, Matius 5:16, Markus 10:45, Galatia 5:13, 1 Korintus 10:24, Roma 15:1, Matius 25:35-40, Lukas 10:25-37, Amsal 3:27, dan Amsal 19:17.

Karya ini dikembangkan sepenuhnya berdasarkan bahan ajaran agama yang disajikan, dengan tujuan mendidik masyarakat tentang nilai universal kemanusiaan lintas agama. Semoga menginspirasi kita semua untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat setiap hari.
” Saya sangat takjub dan kagum dengan
Khairunnas anfa’uhum linnas , sehingga membuahkan karya jurnalis ini “, H.Bataya , ketua Yayasan Karya Peduli Warga , www.karyapeduli.com.

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *