INEWSFAKTA.COM | Jakarta , 29-3-2026 — Praktik grounding atau earthing kembali populer sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Konsepnya sederhana : manusia diyakini dapat “menyatu” kembali dengan bumi melalui kontak langsung—biasanya lewat telapak kaki—untuk menyeimbangkan muatan listrik tubuh.
Namun, di tengah tren ini, muncul pertanyaan penting : apakah semua permukaan tanah benar-benar efektif untuk grounding ? Dan bagaimana dengan warga yang tinggal di apartemen atau hunian bertingkat ?
Memahami Grounding Secara Sederhana
Grounding merujuk pada proses kontak langsung tubuh dengan permukaan bumi sehingga terjadi equalisasi muatan listrik. Dalam teori fisika, bumi memiliki muatan negatif yang stabil, sementara tubuh manusia dapat mengakumulasi muatan statis.
Dengan menyentuh tanah :
Elektron dari bumi dapat “mengalir” ke tubuh.
Terjadi penyeimbangan muatan listrik.
Namun, efektivitas proses ini sangat bergantung pada satu faktor utama :
👉 Konduktivitas permukaan yang disentuh
Ketebalan Tanah : Penting, Tapi Bukan Segalanya
Berdasarkan prinsip fisika dasar dan praktik lapangan :
* Minimal efektif: ±5–10 cm tanah alami
* Ideal: ≥10–20 cm tanah lembab
* Tidak efektif : lapisan tanah tipis di atas beton
Mengapa?
Tanah yang terlalu tipis—misalnya hanya beberapa sentimeter di atas lantai beton—sering kali tidak terhubung secara listrik dengan bumi, sehingga tidak terjadi aliran elektron yang diharapkan.
Lebih jauh lagi, kondisi tanah sangat menentukan :
* Tanah lembab → konduktor baik
* Tanah kering/berpasir → konduktivitas rendah
Apartemen dan Hunian Modern: Tantangan Grounding
Bagi warga apartemen—seperti banyak hunian di Jakarta dan sekitarnya—praktik grounding tidak selalu mudah. Berikut analisa kondisi yang umum ditemukan :
1. Balkon Keramik atau Beton
❌ Tidak efektif
Keramik dan beton kering adalah isolator listrik
Tidak ada koneksi langsung ke bumi.
2. Pot Tanaman (Soil dalam Wadah)
⚠️ Umumnya tidak efektif
Tanah di dalam pot :
Terisolasi dari tanah bumi
Tidak memiliki jalur konduksi ke ground
Kecuali:
Pot langsung bersentuhan dengan tanah bumi (tanpa alas beton)
Atau ada sistem konduktor (misalnya grounding rod)
3. Taman Apartemen (Ground Floor)
✅ Relatif efektif
Syarat :
Tanah langsung (bukan di atas basement beton)
Ketebalan cukup (≥10 cm)
Kondisi lembab
4. Rooftop Garden
⚠️ Perlu diperiksa
Banyak rooftop garden :
Menggunakan lapisan tanah di atas membran waterproof
Di bawahnya terdapat beton struktur
➡️ Artinya: tidak benar-benar terhubung ke bumi
Perspektif Ilmiah : Antara Fakta dan Klaim
Sejumlah penelitian awal menunjukkan kemungkinan manfaat grounding, seperti :
* Mengurangi inflamasi
* Memperbaiki kualitas tidur
* Menurunkan stres
Namun, komunitas ilmiah masih menyatakan bahwa :
* Bukti belum konsisten secara luas
* Masih diperlukan penelitian skala besar
Yang dapat dipastikan : 👉 Secara fisika, kontak dengan bumi memang dapat menetralkan muatan listrik statis
Rekomendasi Praktis untuk Warga
Bagi masyarakat urban, khususnya penghuni apartemen :
✔️ Pilihan terbaik:
Jalan tanpa alas kaki di :
Taman tanah alami
Rumput basah
Pasir (pantai)
✔️ Durasi:
20–30 menit per sesi
✔️ Tips:
Pilih waktu pagi (tanah lebih lembab)
Hindari permukaan buatan
Grounding bukan sekadar “berdiri di tanah”. Ia membutuhkan kondisi fisik yang tepat agar benar-benar terjadi koneksi listrik dengan bumi.
👉 Tanah harus :
* Cukup tebal (≥10 cm)
* Lembab
* Tidak terisolasi beton
Bagi warga apartemen, penting untuk memahami bahwa :
Tidak semua “tanah” di lingkungan hunian modern benar-benar terhubung ke bumi.
Di tengah tren gaya hidup sehat, literasi seperti ini menjadi penting—agar praktik yang dilakukan bukan sekadar ikut tren, tetapi juga tepat secara ilmiah dan kontekstual.
1 karya jurnalis dari H.Bataya sebagai upaya edukasi warga dan tanggungjawab sebagai ketua Yayasan Karya Peduli Warga (www.karyapeduli.com) di bidang sosial dan kemanusiaan yang bersumber dari pengamatan dan pelayanan sosial ditambah studi literasi. Bila ada masukan, sanggahan atau koreksi , silahkan menghubungi redaksi untuk perbaikan.
(Red/HB)














