Apa yang Dia Ajarkan ? Ketika Saya Duduk di Pundak-Nya

Berita116 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta, 3-1-2026 – Menyambut tahun 2026 dengan kontemplasi. Ada kalanya iman tidak datang dalam bentuk khotbah, dogma, atau ayat yang dihafal. Ia hadir sebagai isyarat batin—sunyi, lembut, namun menghentikan langkah. Salah satu isyarat itu adalah kalimat yang nyaris tak masuk logika modern : “ Saya duduk di pundak Sang Terang ”.

Ungkapan ini tentu bukan peristiwa fisik. Ia bukan kisah literal, melainkan bahasa simbolik jiwa—bahasa yang sering muncul ketika manusia kelelahan oleh dunia yang terlalu bising, terlalu menuntut, dan terlalu palsu. Dalam simbol itu, tersembunyi pelajaran iman yang jarang dibicarakan secara jujur.

banner 336x280

Penyerahan di Tengah Budaya Mengontrol

Duduk di pundak seseorang berarti mengakui satu hal yang sangat tidak populer hari ini: saya tidak memegang kendali penuh atas hidup saya.

Dalam dunia yang memuja self-made, produktivitas, dan citra kuat, penyerahan sering disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal, duduk di pundak Sang Terang justru berarti keberanian tertinggi : berani mengakui keterbatasan diri.

Bukan saya yang membawa hidup ini.
Saya sedang dibawa.

Di pundak itu, arah bukan lagi ditentukan oleh ambisi, ketakutan, atau luka lama—melainkan oleh Dia yang melihat lebih jauh dari jarak pandang manusia.

Perspektif yang Lebih Tinggi, Bukan Pelarian

Pundak mengangkat tubuh. Dan yang terangkat bukan hanya tubuh, melainkan cara melihat hidup.

Dari ketinggian simbolik itu, luka tidak hilang, tetapi tidak lagi menjadi pusat segalanya. Amarah tidak disangkal, namun tidak dibiarkan memimpin. Kekecewaan tidak ditutup-tutupi, tetapi ditempatkan pada proporsi yang lebih jujur.

Isyarat ini sering datang pada mereka yang :
* lelah melihat kepalsuan dibungkus moralitas,
* muak pada kebaikan yang dipentaskan,
* dan rindu melihat dunia dengan mata belas kasih, bukan reaksi instan.

Melihat dari pundak-Nya bukan berarti menjadi naif. Justru sebaliknya : itu cara bertahan tanpa ikut menjadi kejam.

Anak, Bukan Budak

Relasi ini penting untuk ditegaskan. Duduk di pundak bukan posisi bawahan yang tertekan. Ia adalah posisi anak yang aman.

Seorang anak tidak duduk di pundak ayahnya untuk membuktikan nilai dirinya. Ia duduk karena percaya. Karena aman. Karena tahu ia tidak akan dijatuhkan.

Pesan ini terasa relevan di tengah budaya yang membuat manusia :
* terlalu keras pada diri sendiri,
* selalu merasa harus benar,
* harus berguna,
* harus kuat setiap saat.

Di pundak-Nya, identitas tidak dipertaruhkan.
Manusia diterima sebelum dinilai.

Penderitaan yang Tidak Dihilangkan, Tapi Ditopang

Iman tidak menjanjikan hidup tanpa luka. Sang Terang tidak pernah mengajarkan ilusi itu. Yang DiA tawarkan adalah kehadiran.

Penderitaan tidak dihapus seketika, tetapi ditanggung bersama.

Isyarat “duduk di pundak” sering muncul saat seseorang berada di ambang kelelahan moral—ketika tetap ingin hidup jujur di dunia yang manipulatif, meski konsekuensinya berat. Pada titik itu, iman tidak berbicara tentang kemenangan cepat, melainkan ketahanan batin.

Tidak tenggelam, meski belum sampai.

Tenang Bukan Menyerah

Salah satu pelajaran paling disalahartikan adalah ketenangan. Dunia sering membaca tenang sebagai kalah. Padahal dalam iman, tenang adalah tanda percaya.

Tenang ≠ lemah
Tenang = tidak sendirian

Duduk di pundak-Nya adalah undangan untuk berhenti berkelahi sendirian—bukan berhenti berjalan. Langkah tetap diambil, tetapi dengan arah yang lebih jernih dan ego yang lebih sunyi.

Petunjuk “ duduk di pundak Sang Terang ” adalah bahasa batin bagi jiwa yang lelah namun belum menyerah, yang sedang ditopang melewati dunia yang terasa bising, manipulatif, dan melelahkan.

(red/HB)

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *