Hadapi Tantangan 2030, STII dan Eks Pejabat Tinggi Malaysia Serukan ASEAN Jadi Kekuatan Peradaban Baru

Organisasi256 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | JAKARTA, 29 Mei 2026 – Di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks, Serikat Tani Islam Indonesia (STII) menggelar Seminar Internasional bertajuk “Asean Under Watch: Menakar Stabilitas Asia Tenggara 2030”. Acara yang berlangsung di Gedung Menara Da’wah, Jakarta Pusat, pada Jumat (29/5/2026) ini menghadirkan mantan Kepala Kantor Staf Perdana Menteri Malaysia, Dato Seri Shamsul Iskandar Mohd Akin, sebagai narasumber utama.

 

banner 336x280

Seminar ini menjadi ruang diskusi strategis bagi para pemangku kepentingan, akademisi, aktivis, dan tokoh masyarakat untuk membedah masa depan kawasan Asia Tenggara. Fokus pembahasan meliputi stabilitas geopolitik, keamanan non-tradisional, serta urgensi ketahanan pangan menuju satu dekade mendatang.

 

Ketua Umum PB STII, Faturrahman Mahfudz, BRIK., MM., dalam sambutannya menegaskan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi turbulensi besar. Rivalitas kekuatan adidaya, konflik regional, hingga ancaman krisis pangan menuntut adanya kesamaan pandangan among negara-negara serumpun.

 

“Kondisi geopolitik internasional maupun regional sedang menghadapi tantangan besar. Forum seperti ini menjadi penting sebagai ruang berbagi pandangan, pengalaman, dan gagasan demi menjaga stabilitas kawasan Asia Tenggara,” ujar Faturrahman.

 

Ia menambahkan, penguatan hubungan antara Indonesia dan Malaysia bukan hanya soal diplomasi formal, tetapi juga persaudaraan sejarah dan budaya yang harus diterjemahkan menjadi kerja sama strategis nyata.

 

Tiga Ancaman Besar Mengintai ASEAN 2030

 

Dalam pemaparannya, Dato Seri Shamsul Iskandar Mohd Akin menyoroti bahwa Asia Tenggara tidak boleh lagi bersikap pasif atau hanya menjadi “penonton” dalam percaturan politik dunia. Sebaliknya, ASEAN harus bertransformasi menjadi kekuatan peradaban baru yang memiliki otonomi strategis.

 

Dato Seri Shamsul mengidentifikasi tiga tekanan utama yang akan dihadapi kawasan ini menuju tahun 2030:

 

Tekanan Geopolitik Global: Imbas dari rivalitas antara kekuatan besar dunia (seperti AS dan Tiongkok) yang berpotensi memecah belah stabilitas internal ASEAN jika tidak dikelola dengan diplomasi yang cerdas.

 

Ketahanan Pangan dan Ekonomi: Tantangan dalam menjamin rantai pasok pangan dan kesejahteraan rakyat, terutama bagi negara dengan populasi besar seperti Indonesia. Isu ini dinilai krusial mengingat kerentanan terhadap guncangan ekonomi global.

 

Keamanan Non-Tradisional: Ancaman yang bersifat modern dan lintas batas, termasuk disinformasi masif, serangan siber (cyber attacks), perebutan dominasi teknologi Kecerdasan Buatan (AI), serta dampak perubahan iklim.

 

“Kita harus memikirkan bagaimana ASEAN menjadi satu kekuatan peradaban ke depan. Kawasan ini membutuhkan kepemimpinan yang memiliki agenda dan visi yang jelas,” tegas Dato Seri Shamsul.

 

Ia menekankan prinsip “berteman dengan semua pihak” (friends to all, enemy to none) sebagai kunci diplomasi ASEAN. “ASEAN tidak boleh terjebak dalam ketegangan global. Kita harus membuka ruang dialog demi menjaga kestabilan kawasan,” tambahnya.

 

Selain itu, Dato Seri Shamsul juga mendesak adanya penguatan kemampuan keamanan siber secara kolektif di tingkat regional. Menurutnya, ancaman digital seperti hoaks dan peretasan data dapat menggoyahkan kepercayaan publik dan stabilitas nasional jika tidak ditangani bersama.

 

Pentingnya Kolaborasi Ketahanan Pangan

 

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang pertanian dan pemberdayaan petani, STII menempatkan isu ketahanan pangan sebagai prioritas utama. PB STII menilai bahwa swasembada pangan bukan hanya target nasional masing-masing negara, melainkan kebutuhan kawasan untuk mencegah ketergantungan berlebihan pada impor dari luar ASEAN.

 

Moderator seminar, Hilman Ismail Metareum, SE., selaku Plh PB STII, mengapresiasi kedalaman analisis yang disampaikan oleh narasumber. Ia berharap forum ini dapat menjadi jembatan untuk memperkuat sinergi antara Indonesia dan Malaysia, khususnya dalam menghadapi tantangan ekonomi dan pangan.

 

“Kita dengan Malaysia harus memperkuat hubungan persaudaraan dan kerja sama strategis. Kami bersyukur atas kehadiran Dato Seri Shamsul Iskandar Mohd Akin yang memberikan gambaran situasi kawasan dan outlook ke depan yang sangat berharga,” kata Hilman.

 

Harapan Ke Depan

 

Seminar yang berlangsung selama 90 menit ini berjalan interaktif dan penuh suasana kekeluargaan. Para peserta antusias mengajukan pertanyaan terkait strategi diplomasi digital dan langkah konkret peningkatan produksi pangan lokal.

 

Melalui kegiatan ini, STII berharap dapat mempererat tali silaturahmi antara elemen masyarakat sipil Indonesia dan Malaysia, sekaligus mendorong lahirnya rekomendasi kebijakan yang dapat diserahkan kepada pemerintah kedua negara. Tujuannya tunggal: mewujudkan Asia Tenggara yang stabil, mandiri, dan sejahtera pada tahun 2030.

(red)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *