Iran Disebut Mampu Lumpuhkan Starlink Lewat Perang Elektronik, Ini Penjelasan Teknisnya

Berita38 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta, 14-1-2026 — Sebuah narasi baru mencuat dalam dinamika konflik teknologi global. Iran disebut berhasil mematahkan anggapan bahwa layanan internet satelit Starlink tak dapat diganggu. Klaim tersebut menyebutkan bahwa akses Starlink di wilayah Iran sempat terganggu secara luas melalui operasi perang elektronik, meski satelitnya tetap berada di orbit dan berfungsi normal.

Sebelumnya, ketika terjadi pembatasan jaringan telepon dan internet domestik saat gelombang demonstrasi besar, Starlink kerap dipandang sebagai “jalur aman” komunikasi warga ke luar negeri. Namun, menurut paparan teknis yang beredar, pelumpuhan itu dilakukan lewat tiga metode utama yang menargetkan cara kerja sistem Starlink itu sendiri.

banner 336x280

Pertama, gangguan jalur penerimaan (downlink/tunneling).
Terminal Starlink di darat bekerja dengan “mendengarkan” sinyal relatif lemah dari satelit di orbit rendah. Sinyal ini beroperasi di frekuensi Ku-band (sekitar 10–14 GHz). Sistem jamming memancarkan sinyal gangguan pada frekuensi yang sama, namun dengan amplitudo jauh lebih besar. Akibatnya, antena Starlink tidak mampu membedakan mana data internet dan mana gangguan, memicu kehilangan paket data hingga total packet loss.

Kedua, gangguan jalur pengiriman (uplink jamming).
Pada metode ini, sinyal gangguan diarahkan ke atas, langsung ke satelit Starlink yang melintas. Walau satelit berada di ketinggian ratusan kilometer, antena berpengarah dengan gain tinggi disebut mampu membanjiri sensor penerima satelit. Saat sensor mengalami kelebihan beban, satelit menjadi “tuli” terhadap permintaan data dari ribuan terminal di darat. Dampaknya, wilayah tertentu mengalami blackout total, meski satelit secara fisik tidak rusak.

Ketiga, GPS jamming dan GPS spoofing.
Terminal Starlink bukan sekadar antena pasif. Perangkat ini adalah komputer canggih yang harus mengetahui posisi dan waktu secara presisi—mengandalkan sinyal GPS—untuk mengarahkan berkas sinyal (beam) ke satelit yang tepat setiap milidetik. Dengan memancarkan sinyal navigasi palsu atau mengacaukan GPS, terminal dibuat “bingung” soal posisinya sendiri. Tanpa data waktu dan lokasi yang akurat, sistem pengarah antena gagal mengunci satelit. Banyak pengguna pun melaporkan perangkat mereka terus berada pada status searching meski cuaca cerah.

Teknologi perang elektronik ini kerap dikaitkan dengan sistem buatan Rusia, yang dirancang untuk melumpuhkan komunikasi lawan tanpa kontak fisik langsung. Dalam konteks ini, perang modern tidak selalu ditentukan oleh senjata kinetik, melainkan oleh kemampuan menguasai spektrum elektromagnetik.

Meski demikian, para analis menekankan bahwa klaim pelumpuhan Starlink bersifat situasional dan sangat bergantung pada jarak, daya pancar, serta konfigurasi teknis di lapangan. SpaceX, perusahaan di balik Starlink, selama ini menyatakan terus memperbarui perangkat lunak dan teknik mitigasi untuk menghadapi jamming dan spoofing.

Di luar aspek teknis, muncul pula pertanyaan etis dan kebijakan publik: hingga di mana teknologi perang elektronik akan digunakan, dan apakah sistem serupa berpotensi disalahgunakan untuk membatasi kebebasan sipil di negara lain. Perdebatan ini menandai babak baru persaingan antara teknologi komunikasi global dan kemampuan negara dalam mengendalikan ruang digitalnya.

(Red/HB)

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *