Itikad Baik dan Konsistensi yang Terus Diuji

Berita244 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta, 5-1-2026 – Perjuangan warga hampir selalu bermula dari itikad baik personal. Bukan dari struktur, bukan dari jabatan, melainkan dari satu-dua orang yang bersedia melangkah lebih dulu—mengorbankan waktu, energi, bahkan kenyamanan pribadi. Namun di titik inilah persoalan klasik muncul: kualitas konsistensi.

Dalam banyak kasus, keberanian warga kerap berhenti di separuh jalan. Ada yang lantang bersuara di awal, melempar kritik, bahkan memicu gelombang protes. Tetapi ketika situasi mulai menuntut konsistensi, keberanian itu menguap. Lempar batu, lalu tiarap. Atau lebih buruk : kabur tanpa jejak. Sikap semacam ini bukan hanya melemahkan perjuangan, tetapi juga meninggalkan beban pada mereka yang memilih bertahan.

banner 336x280

Jika pola ini terus berulang, sulit berharap perubahan berarti. Perjuangan kolektif tidak dibangun dari euforia sesaat, melainkan dari ketekunan yang sering kali sunyi dan tidak populer. Konsistensi adalah mata uang paling mahal dalam gerakan warga—dan justru paling langka.

Beberapa warga hanya bisa mengkritik dan mencela , tapi dia sendiri tidak melakukan apapun . No Action , Talk Only atau disingkat NATO

Di sisi lain, muncul pertanyaan yang tak kalah problematis. “Apa keuntungan untuk saya?” Kalimat ini kerap terlontar dari sesama warga, bahkan dari mereka yang terdampak langsung oleh persoalan yang sedang diperjuangkan. Pertanyaan tersebut mencerminkan cara pandang transaksional terhadap hak-hak publik, seolah perjuangan warga harus selalu dibayar dengan manfaat instan dan personal.

Padahal yang diperjuangkan adalah kepentingan bersama. Hak atas pengelolaan yang adil, transparansi, dan perlindungan hukum tidak berhenti pada satu nama atau satu unit hunian. Ia melekat pada semua warga—termasuk mereka yang masih ragu atau memilih bertanya soal keuntungan pribadi.

Ironisnya, ketika hasil perjuangan itu kelak hadir, mereka yang paling pasif pun akan ikut menikmatinya. Hak publik tidak memilih siapa yang dulu bersuara dan siapa yang diam. Ia berlaku untuk semua.

Di titik ini, persoalannya menjadi jelas: krisis bukan hanya soal regulasi atau pengelolaan, tetapi soal karakter kolektif. Tanpa itikad baik yang konsisten, tanpa kesadaran bahwa perjuangan warga adalah kerja jangka panjang, maka gerakan apa pun akan mudah patah sebelum mencapai tujuannya.

Perubahan tidak lahir dari mereka yang bertanya “apa untungnya bagi saya”, melainkan dari mereka yang berani bertanya lebih jauh : apa yang akan terjadi bila kita semua diam ?

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *