Jenis Bahan Pakaian yang Berpotensi Berbahaya Bagi Kesehatan Manusia, Terutama Jika Digunakan Dalam Jangka Panjang.

Berita136 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta , 1-2-2026 – Berbagai kajian ilmiah dan temuan kesehatan lingkungan menunjukkan bahwa pakaian yang dikenakan sehari-hari tidak selalu netral terhadap tubuh manusia. Di balik kenyamanan dan tren fesyen modern, sejumlah bahan pakaian—terutama berbasis sintetis dan yang melalui proses kimia intensif—berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang, mulai dari iritasi kulit, gangguan termoregulasi tubuh, hingga paparan zat kimia berbahaya yang bersifat laten dan akumulatif. Minimnya literasi konsumen serta dominasi industri tekstil cepat (fast fashion) membuat risiko ini kerap luput dari perhatian publik, padahal paparan yang terjadi terus-menerus pada populasi luas dapat berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius.

 

banner 336x280

Sejumlah penelitian di bidang kesehatan lingkungan dan ilmu material menunjukkan bahwa beberapa jenis bahan pakaian tertentu memiliki potensi risiko kesehatan, terutama jika digunakan dalam jangka panjang, bersentuhan langsung dengan kulit, atau dipakai pada kondisi panas dan lembab. Berikut bahan-bahan yang paling sering dikaitkan dengan risiko tersebut:

1. Polyester

Polyester merupakan bahan sintetis berbasis petrokimia yang paling banyak digunakan dalam industri fesyen modern. Dalam proses produksinya, polyester melibatkan antimon (antimony trioxide) yang bersifat toksik pada paparan kronis. Selain itu, polyester tidak memiliki daya serap alami, sehingga dapat menjebak panas dan keringat, memicu iritasi kulit, jerawat mekanik, serta memperburuk infeksi jamur dan bakteri.

2. Nylon (Poliamida)

Nylon memiliki karakter kuat dan elastis, namun bersifat kurang breathable. Bahan ini dapat menahan panas tubuh dan meningkatkan kelembapan pada kulit, yang berisiko menyebabkan dermatitis kontak. Beberapa studi juga menyoroti potensi pelepasan senyawa kimia volatil dari nylon saat terpapar suhu tinggi.

3. Acrylic

Acrylic sering digunakan sebagai pengganti wol sintetis. Bahan ini dapat melepaskan residu monomer dan zat pewarna sintetis yang berpotensi menyebabkan reaksi alergi, gatal, dan sensasi terbakar pada kulit sensitif. Acrylic juga dikenal mudah menghasilkan listrik statis, yang memperburuk ketidaknyamanan fisiologis.

4. Spandex / Elastane / Lycra

Spandex mengandung senyawa polyurethane dan sering diproses dengan bahan kimia pelunak. Pemakaian jangka panjang, terutama pada pakaian ketat, dapat menghambat sirkulasi udara dan meningkatkan risiko iritasi, ruam, serta gangguan mikrobioma kulit.

5. Rayon / Viscose

Meskipun sering dipasarkan sebagai “semi-alami”, rayon sebenarnya diproduksi melalui proses kimia intensif, termasuk penggunaan karbon disulfida (CS₂), zat yang dalam paparan industri diketahui berdampak pada sistem saraf. Residu proses ini dapat memicu iritasi kulit dan gangguan pernapasan pada individu sensitif.

6. Pakaian dengan Pewarna Sintetis Berbahaya

Bahan pakaian—baik sintetis maupun alami—yang menggunakan pewarna azo, formaldehida, atau logam berat (kromium, timbal) berpotensi menimbulkan reaksi alergi, eksim, hingga efek toksik jangka panjang. Risiko meningkat jika pakaian tidak melalui proses pencucian awal yang memadai.

7. Katun Non-Organik dengan Perlakuan Kimia

Katun secara alami relatif aman, namun katun non-organik sering mengandung residu pestisida, pemutih klorin, dan bahan anti-kusut berbasis formaldehida, yang dapat menyebabkan iritasi kulit, terutama pada bayi dan individu dengan kulit sensitif.

8. Pakaian Anti Air, Anti Noda, atau Anti Kusut

Jenis pakaian ini sering dilapisi senyawa PFAS (per- dan polyfluoroalkyl substances), yang dikenal sebagai forever chemicals. PFAS dikaitkan dalam studi epidemiologi dengan gangguan hormon, sistem imun, dan potensi risiko kanker.

Tidak semua bahan pakaian berbahaya dalam penggunaan sesekali, namun risiko kesehatan muncul melalui paparan jangka panjang, intensitas tinggi, dan kontak langsung dengan kulit, terutama pada bahan sintetis dan tekstil dengan perlakuan kimia berat. Kesadaran konsumen terhadap jenis bahan pakaian menjadi langkah awal penting dalam upaya perlindungan kesehatan individu dan masyarakat.

(Red/HB)

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *