Ketika Logika Perusahaan Dibawa ke Lingkungan Sosial : Mengapa Sering Berujung Konflik ?

Berita160 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta , 22-3-2026 – Di banyak lingkungan hunian—terutama apartemen dan komunitas urban—muncul fenomena yang kian terasa : pola kepemimpinan dan pengambilan keputusan ala perusahaan dibawa masuk ke dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Sekilas tampak efektif. Namun dalam praktiknya, pendekatan ini justru sering memicu gesekan, resistensi, bahkan konflik berkepanjangan. Mengapa hal ini terjadi?

Dua Dunia yang Berbeda : Perusahaan vs Komunitas Sosial

banner 336x280

Dalam dunia perusahaan, pengambilan keputusan bersifat :
* Hierarkis (atasan → bawahan)
* Berbasis target dan efisiensi
* Digerakkan oleh kepentingan organisasi dan profit

Sebaliknya, dalam komunitas sosial :
* Relasi bersifat horizontal (setara).
* Mengedepankan musyawarah dan konsensus.
* Berbasis pada nilai kebersamaan, empati, dan kepercayaan.

Menurut teori Gemeinschaft vs Gesellschaft dari sosiolog Ferdinand Tönnies, komunitas tradisional (Gemeinschaft) dibangun atas kedekatan emosional dan solidaritas, sementara organisasi modern (Gesellschaft) berbasis rasionalitas dan kepentingan formal.

Ketika logika Gesellschaft dipaksakan ke ruang Gemeinschaft, ketegangan sosial menjadi hampir tak terhindarkan.

Kesalahan Umum : “Memimpin Komunitas seperti Mengelola Perusahaan”

Banyak individu dengan latar belakang manajerial terbiasa dengan :
* Instruksi satu arah
* Kontrol keputusan
* Penekanan pada hasil cepat

Namun dalam komunitas sosial, pendekatan ini bisa dianggap :
* Otoriter
* Tidak menghargai partisipasi
* Mengabaikan dinamika emosional warga

Dalam perspektif psikologi sosial, hal ini berkaitan dengan konsep “power distance” yang diperkenalkan oleh Geert Hofstede.

Dalam organisasi, jarak kekuasaan bisa diterima.
Namun dalam komunitas sosial, jarak ini justru sering ditolak karena bertentangan dengan rasa kesetaraan.

Dimensi Psikologis : Manusia Bukan “Unit Kerja”

Dalam perusahaan, individu sering diposisikan sebagai bagian dari sistem kerja.
Namun dalam komunitas sosial, manusia hadir sebagai :
* Individu dengan emosi
* Identitas sosial
* Kebutuhan akan dihargai

Psikolog Abraham Maslow menjelaskan bahwa kebutuhan manusia tidak hanya soal fungsi, tetapi juga :
* Rasa memiliki (belonging)
* Pengakuan (esteem)
* Aktualisasi diri

Pendekatan yang terlalu “mekanis” seperti di perusahaan sering mengabaikan kebutuhan ini—dan memicu resistensi psikologis.

Teori Identitas Sosial : Mengapa Warga Menolak “Gaya Korporat” ?

Menurut teori Social Identity dari Henri Tajfel, individu dalam kelompok sosial membangun identitas bersama.
Ketika seseorang datang dengan pendekatan “top-down” ala perusahaan, warga dapat merasakan :
* Ancaman terhadap identitas kelompok
* Hilangnya rasa kepemilikan
* Ketidakadilan dalam proses pengambilan keputusan

Akibatnya, muncul fenomena :
* Penolakan pasif
* Konflik terbuka
* Fragmentasi komunitas

Rasionalitas vs Relasionalitas

Ilmu sosial membedakan dua pendekatan utama :
1. Instrumental Rationality (rasionalitas tujuan)
→ dominan di perusahaan (efisiensi, hasil)
2. Communicative Rationality (rasionalitas komunikasi)
→ dominan di masyarakat (dialog, pemahaman bersama)

Konsep ini dikembangkan oleh Jürgen Habermas, yang menekankan bahwa ruang sosial membutuhkan komunikasi yang setara, bukan dominasi struktural.

Dampak Nyata di Lingkungan Hunian

Ketika gaya perusahaan dipaksakan ke komunitas sosial, dampak yang sering muncul :
* Rapat warga berubah menjadi “instruksi sepihak”
* Aspirasi warga tidak terakomodasi
* Kepercayaan terhadap pengurus menurun
* Konflik horizontal meningkat

Dalam jangka panjang, hal ini dapat merusak modal sosial (social capital)—konsep yang dijelaskan oleh Robert Putnam sebagai fondasi kepercayaan dan kerja sama dalam masyarakat.

Tidak Semua Sistem Bisa Dipindahkan

Kebijakan problem solving dalam perusahaan tidak bisa serta-merta diterapkan dalam komunitas sosial.

Perusahaan bekerja dengan logika :
➡️ Efisiensi, kontrol, hasil

Komunitas sosial bekerja dengan logika :
➡️ Partisipasi, empati, kepercayaan

Ketika batas ini diabaikan, yang terjadi bukan solusi—melainkan konflik.

Dalam dunia yang semakin kompleks, kemampuan memimpin tidak hanya diukur dari keberhasilan mengelola sistem, tetapi juga dari kemampuan memahami manusia dalam konteks sosialnya.

Karena pada akhirnya, komunitas bukanlah organisasi kerja.
Ia adalah ruang hidup—yang menuntut pendekatan yang lebih manusiawi.

Sumber Literasi (Ilmu Sosial & Psikologi) :
* Tönnies, F. — Gemeinschaft and Gesellschaft
* Hofstede, G. — Culture’s Consequences (Power Distance)
* Maslow, A. — Hierarchy of Needs
* Tajfel, H. — Social Identity Theory
* Habermas, J. — Theory of Communicative Action
* Putnam, R. — Bowling Alone (Social Capital)

1 karya jurnalis dari H.Bataya sebagai upaya edukasi warga dan tanggungjawab sebagai ketua Yayasan Karya Peduli Warga (www.karyapeduli.com) di bidang sosial dan kemanusiaan yang bersumber dari pengamatan dan pelayanan sosial ditambah studi literasi. Bila ada masukan, sanggahan atau koreksi , silahkan menghubungi redaksi untuk perbaikan.

(Red/HB)

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *