Naga Dalam Sejarah Tiongkok : Simbol Kosmik yang Merepresentasikan Kehidupan, Kekuasaan, dan Harmoni Alam

Berita66 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta , 17-1-2026 – Selama berabad-abad, persepsi populer—terutama yang dipengaruhi oleh narasi budaya Barat—kerap menempatkan naga sebagai simbol kejahatan, kegelapan, dan makhluk pemangsa korban. Naga digambarkan sebagai ancaman yang harus dimusnahkan, lambang keserakahan dan kehancuran. Namun pandangan ini menjadi keliru ketika diterapkan secara universal. Dalam sejarah dan tradisi China, naga justru memiliki makna yang hampir berlawanan: ia bukan personifikasi kejahatan, melainkan simbol kehidupan, keseimbangan alam, dan kekuasaan yang sah. Perbedaan tafsir inilah yang sering luput dipahami, sehingga satu simbol kosmologis yang luhur disederhanakan menjadi citra gelap yang tidak pernah hidup dalam kebudayaan Tiongkok itu sendiri.

Sejak ribuan tahun lalu, naga (龙 / long) menempati posisi sentral dalam kosmologi Tiongkok. Ia diyakini sebagai makhluk yang menguasai unsur air—hujan, sungai, dan laut—yang berarti sumber kesuburan dan kelangsungan hidup masyarakat agraris. Dalam konteks ini, naga adalah pemberi kehidupan, bukan pembawa kebinasaan.

banner 336x280

Berbeda dengan citra naga Barat yang sering dikaitkan dengan dosa dan kekacauan, naga Tiongkok justru dipandang sebagai makhluk bijaksana. Ia tidak disembah karena ditakuti, melainkan dihormati karena menjaga keseimbangan antara langit, bumi, dan manusia. Kegagalan panen atau bencana alam kerap dimaknai sebagai tanda terganggunya harmoni kosmis—bukan karena naga jahat, tetapi karena manusia lalai menjaga keseimbangan moral dan alam.

Dalam sejarah politik, naga bahkan menjadi simbol legitimasi kekuasaan. Kaisar Tiongkok disebut sebagai Putra Langit (Tianzi), dan naga menjadi lambang otoritas ilahi. Jubah kekaisaran dihiasi naga bercakar lima, singgasana disebut Dragon Throne, dan istana kekaisaran dipenuhi ornamen naga sebagai penanda kekuasaan yang sah dan bertanggung jawab. Di sini, naga bukan perusak, melainkan penjaga tatanan.

Makna naga juga meresap ke dalam kehidupan sosial dan budaya. Dalam astrologi Tiongkok, tahun naga dianggap membawa keberuntungan, kekuatan, dan potensi besar. Banyak keluarga berharap anak lahir di tahun naga karena diyakini memiliki masa depan yang kuat dan berwibawa. Ini menunjukkan bahwa naga tidak diasosiasikan dengan keserakahan, melainkan dengan harapan dan kemuliaan.

Jika dalam beberapa kisah rakyat naga dapat tampil murka—mendatangkan badai atau banjir—kemarahan itu biasanya dipahami sebagai respons terhadap ketidakadilan, pelanggaran moral, atau ketidakseimbangan manusia terhadap alam. Dengan kata lain, naga bukan sumber kejahatan, melainkan cermin dari perilaku manusia sendiri.

Sejarah Tiongkok menunjukkan bahwa simbol tidak pernah berdiri tunggal. Naga adalah metafora besar tentang kekuasaan yang harus selaras, kekuatan yang harus bijaksana, dan alam yang harus dihormati. Menyederhanakan naga sebagai simbol kejahatan berarti mengabaikan lapisan filsafat, kosmologi, dan sejarah panjang peradaban Tiongkok itu sendiri.

Dalam tradisi Tiongkok, naga bukan musuh umat manusia. Ia adalah penjaga harmoni—dan pengingat bahwa kekuatan tanpa kebijaksanaan selalu berujung pada kehancuran, bukan karena naga, tetapi karena manusia.

(Red/HB)

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *