Tantangan Kerjasama Tim : Mengapa Beberapa Kepribadian Menjadi Penghalang

Berita92 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta, 12-2-2026 – Dalam lanskap sosial global yang semakin kompleks, kerjasama antar individu menjadi kunci utama kesuksesan. Namun, literatur psikologi dan manajemen dari para ahli dunia menunjukkan bahwa tidak semua kepribadian cocok untuk kolaborasi yang sehat. Berdasarkan penelitian dari psikolog seperti Alan Fruzzetti dan peneliti dari Duke University, serta analisis dari jurnal seperti *Personality and Individual Differences*, ada tiga tipe kepribadian yang sering kali membuat kerjasama menjadi sulit, bahkan mustahil: individu dengan kecenderungan impulsif akibat gangguan kepribadian, mereka yang tidak konsisten atau oportunis, dan pengidap sindrom kekuasaan (hubris syndrome). Artikel ini mengeksplorasi ketiga aspek ini melalui lensa literatur intelektual dunia, menyoroti dampaknya terhadap produktivitas tim dan stabilitas bisnis.

1. Kerjasama dengan Individu Impulsif: Gangguan Psikologis yang Mengganggu Dinamika Tim

banner 336x280

Gangguan kepribadian seperti Borderline Personality Disorder (BPD) sering kali melibatkan elemen impulsif yang merusak kolaborasi di tempat kerja. Menurut penelitian dari Grand Rising Behavioral Health, individu dengan gangguan ini mengalami kesulitan interpersonal yang menghambat komunikasi efektif dan kerjasama. Impulsivitas mereka dapat menyebabkan konflik mendadak, emosi yang tidak stabil, dan perilaku yang memecah belah tim, seperti memengaruhi rekan kerja secara halus untuk menciptakan ketidakharmonisan.

Studi dari Asteroid Health menambahkan bahwa gangguan ini tidak hanya memengaruhi individu yang bersangkutan, tetapi juga menciptakan efek riak yang mengganggu seluruh tim, mengurangi moral dan produktivitas. Misalnya, dalam simulasi tempat kerja, individu dengan ciri BPD cenderung menghasilkan strategi tugas yang buruk, yang berujung pada performa kerja rendah. Peneliti dari *Managed Healthcare Executive* menggambarkan bagaimana sifat impulsif ini menyebabkan penurunan moral tim dan keterlambatan proyek kolaboratif.

Dalam konteks bisnis, kerjasama dengan tipe ini sering kali gagal karena ketidakmampuan mereka untuk mempertahankan fokus jangka panjang. Seperti yang dijelaskan dalam jurnal *Personality and Individual Differences*, impulsivitas menghalangi penyelesaian tugas dan menciptakan isolasi, membuat tim sulit berkembang. Ahli seperti dari Job Accommodation Network menekankan bahwa tanpa dukungan emosional yang tepat, individu ini dapat menciptakan lingkungan kerja yang toksik, di mana kolaborasi menjadi mimpi buruk.

2. Ketidakkonsistenan dan Oportunisme : Ancaman bagi Kestabilan Kemitraan Bisnis

Individu yang “berdiri di dua perahu”—yaitu tidak konsisten dan sering kali didorong oleh motif keuntungan materi atau penguasaan bisnis—merupakan risiko besar dalam kemitraan. Analisis dari Adams Accountancy menyoroti bahwa ketidakkonsistenan ini sering kali berujung pada konflik visi bisnis, komitmen yang tidak seimbang, dan pelanggaran kepercayaan. Ketika satu pihak merasa bekerja lebih keras sementara yang lain mengejar keuntungan pribadi, kebencian muncul, yang dapat menghancurkan kemitraan.

Penelitian dari Pollack Peacebuilding Systems mengidentifikasi kegagalan kemitraan karena ketidakkonsistenan komunikasi dan tujuan yang tidak selaras, yang menyebabkan salah paham dan kebencian. Dalam studi dari *Industrial Marketing Management*, ketidakamanan relasi akibat oportunisme meningkatkan konflik disfungsional dan perilaku koersif, yang merusak performa bisnis secara keseluruhan. Kevin A. Jerry dari MST & Associates menambahkan bahwa perilaku tidak konsisten menciptakan ketidakpercayaan, kerusakan finansial, dan reputasi yang rusak.

Literatur dari Escalon menunjukkan bahwa hingga 50% kemitraan gagal karena nilai yang bertabrakan dan perilaku destruktif seperti penyalahgunaan aset bersama. Indeed.com mencatat bahwa ketidaksetaraan dalam kekuasaan atau beban kerja sering kali menjadi akar masalah, membuat kerjasama jangka panjang tidak layak. Oportunisme ini, seperti yang dijelaskan dalam analisis dari Purdy & Bailey, LLP, dapat menimbulkan risiko hukum dan menurunkan performa bisnis secara signifikan.

3. Sindrom Kekuasaan : Hubris yang Merusak Kepemimpinan dan Kerjasama

Sindrom kekuasaan, atau hubris syndrome, adalah kondisi yang muncul ketika seseorang dalam posisi kuat mengembangkan pandangan berlebihan terhadap kemampuan diri mereka. Atlassian menjelaskan bahwa ini menyebabkan obsesi citra diri, penghinaan terhadap kritik, dan keputusan impulsif yang merugikan tim. Peneliti seperti Lord David Owen dari Duke University mencatat bahwa kekuasaan jangka panjang mengubah kepribadian, membuat pemimpin terisolasi dari realitas dan mengabaikan saran.

Dalam konteks tim, hubris syndrome menghancurkan kepercayaan dan hubungan, seperti yang digambarkan dalam *Psychology Today*: pemimpin dengan sindrom ini menunjukkan sikap merendahkan, yang menyebabkan tim menderita keputusan buruk dan kerjasama yang tidak efektif. Caroline Kennedy dari Business Coach menambahkan bahwa ego berlebih ini mengurangi inovasi dan motivasi tim, dengan estimasi bahwa 53% pemimpin bisnis kehilangan hingga 15% pendapatan karena hal ini. StepChange menyatakan bahwa pemimpin hubristik cenderung mendemoralisasi tim, menyebabkan karyawan terbaik pergi.

Owen dan Davidson dalam studi mereka menekankan bahwa hubris bukanlah sifat bawaan, melainkan diakibatkan oleh kekuasaan yang berkepanjangan, yang membuat kerjasama menjadi sulit karena pemimpin tersebut merasa tak tergantikan. Buku *Hubristic Leadership* dari SAGE menyarankan pendekatan moderasi dan analisis kritis untuk mencegahnya.

Membangun Kerjasama yang Sehat

Literatur dunia menegaskan bahwa kerjasama dengan individu impulsif, tidak konsisten, atau pengidap hubris syndrome sering kali berujung pada kegagalan bisnis. Namun, pemahaman ini dapat menjadi alat untuk mencegah risiko, seperti melalui evaluasi kepribadian awal dan mekanisme resolusi konflik. Seperti yang disarankan para ahli, tim yang sukses adalah yang memprioritaskan kolaborasi berdasarkan kepercayaan dan konsistensi, bukan ego atau impuls.

Ini adalah salah 1 karya jurnalis dari H.Bataya sebagai upaya edukasi warga dan tanggungjawab sebagai ketua Yayasan Karya Peduli Warga di bidang sosial dan kemanusiaan yang bersumber dari pengamatan dan pelayanan sosial ditambah studi literasi. Bila ada masukan, sanggahan atau koreksi , silahkan menghubungi redaksi untuk perbaikan.

(Red/HB)

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *