INEWSFAKTA.COM | JAKARTA – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) bersama Pemuda ICMI berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Ramadhan Leadership ICMI 1447 H/2026 pada Selasa (25/2/2026) di Gedung BRIN, Gatot Subroto, Jakarta.
Mengusung tema “Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepemimpinan Strategis untuk Indonesia Berkemajuan dan Berkeadaban”, kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi nasional para cendekiawan, peneliti, akademisi, pejabat publik, serta generasi muda dalam memperkuat fondasi kepemimpinan Indonesia menuju 2045.
Lebih dari 500 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri atas sekitar 300 peserta hadir langsung dan 200 peserta mengikuti secara daring dari berbagai wilayah Indonesia.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa bersama yang dipimpin H. Ahmad Bisri, memohon keberkahan serta kelancaran seluruh rangkaian kegiatan. Nuansa Ramadan terasa kuat sebagai pengingat bahwa kepemimpinan sejati berakar pada nilai spiritual dan integritas moral.
Kepemimpinan di Era Disrupsi
Ketua Umum ICMI sekaligus Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., dalam pidato kunci menegaskan bahwa tantangan kepemimpinan masa kini tidak lagi sederhana. Perubahan global yang dipicu oleh revolusi teknologi, kecerdasan artifisial (AI), krisis iklim, dan dinamika geopolitik menuntut hadirnya pemimpin yang adaptif dan visioner.
“Manusia terbaik adalah yang paling besar kemanfaatannya bagi orang lain. Semakin tinggi pendidikan dan jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab sosialnya,” tegas Arif Satria.
Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan memiliki empat level: memimpin diri sendiri, memimpin orang lain, memimpin perubahan, dan memimpin masa depan. Dua level terakhir, menurutnya, menjadi tantangan utama bangsa saat ini.
“Bukan yang terkuat atau paling pintar yang akan bertahan, tetapi yang paling responsif terhadap perubahan. Di era AI, perubahan berlangsung sangat cepat. Karena itu, kita harus berani memimpin perubahan dan menyiapkan masa depan,” ujarnya.
Arif menekankan pentingnya integrasi antara spiritualitas, intelektualitas, dan inovasi riset sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Refleksi Kebangsaan Prof. Jimly
Ketua Dewan Pembina ICMI, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H., dalam tausiyahnya menyampaikan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa kepada seluruh peserta.
“Selamat menjalankan ibadah puasa. Mudah-mudahan puasa kita menjadikan kita insan yang sungguh-sungguh bertakwa, dan pada Idul Fitri kita benar-benar kembali kepada fitrah sebagai manusia yang beriman kepada Allah. Saya juga memohon maaf lahir dan batin,” tuturnya.
Prof. Jimly menegaskan bahwa umat Islam diajarkan untuk selalu optimistis memandang masa depan tanpa melupakan sejarah.
“Kita harus optimis melihat masa depan, tetapi tidak boleh lupa pada masa lalu. Tantangan zaman sekarang, dengan teknologi yang serba cepat, membuat ingatan kita terhadap sejarah makin pendek. Kalau kita lupa sejarah, impian kita tentang masa depan juga bisa menjadi pendek,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan seharusnya tidak menjauhkan manusia dari iman, melainkan memperkuat keyakinan terhadap kebenaran wahyu.
“Semakin banyak temuan ilmiah, seharusnya semakin menguatkan iman kita. Jangan sampai kemajuan teknologi membuat kita sombong. Ilmu pengetahuan harus memperkuat ketakwaan,” tegasnya.
Ia juga menyinggung pentingnya riset sejarah dan peradaban Nusantara yang menunjukkan panjangnya jejak peradaban bangsa Indonesia dalam konteks global. Baginya, kepemimpinan masa depan harus dibangun di atas kesadaran sejarah, penguasaan ilmu, dan keteguhan nilai spiritual.
Sinergi Cendekiawan dan Negara
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain:
– Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H. (Ketua Dewan Pembina ICMI)
– Dr. Ismail Rumadan, S.H., M.H. (Ketua Umum MPP Pemuda ICMI)
– Prof. Brian Yuliarto, Ph.D. (Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi)
Dr. Ferry Juliantono, S.E., Ak., M.Si. (Menteri Koperasi RI)
– Prof. Dr. Atip Latipulhayat (Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah)
– Dr. Nawawi, S.E., M.A. (Kepala Pusat Riset Hukum BRIN)
Dewa Rachman, S.Sos., M.Si. (Direktur Umum dan Hukum LPDB)
– Dr. H. Syahganda Nainggolan (Cendekiawan Muslim)
– Dra. Hj. Welly Safitri, M.Si. (Ketua Umum MPP Perempuan ICMI)
Kehadiran lintas sektor ini menunjukkan kuatnya sinergi antara organisasi cendekiawan, lembaga riset negara, dan pembuat kebijakan dalam merumuskan arah kepemimpinan nasional.
Rangkaian Festival Ramadan ICMI
Dalam laporannya, Ketua Panitia Dra. Hj. Welly Safitri, M.Si., menyampaikan bahwa Ramadhan Leadership merupakan bagian dari Festival Ramadan ICMI 1447 H, yang meliputi berbagai program strategis dan sosial, antara lain:
– National Leadership Camp (NLC)
– Ramadan Literasi Cendekia di Masjid Al-Azhar
– Pesantren Kilat untuk remaja dan mahasiswa
– ICMI Islamic Film Festival
– Khataman dan Pawai Al-Qur’an Akbar
-Podcast dan Kajian Ilmu Al-Qur’an bersama Kementerian Agama RI
– Santunan bagi 5.000 anak yatim dan dhuafa
– Silaturahmi Kebangsaan dan Halal Bihalal
“Program ini dirancang agar kepemimpinan tumbuh tidak hanya dalam forum diskusi, tetapi juga dalam aksi sosial yang nyata dan berdampak,” ujarnya.
Menuju Indonesia Berkemajuan dan Berkeadaban
Ramadhan Leadership ICMI 1447 H menjadi penegasan bahwa kepemimpinan Indonesia ke depan harus memadukan iman, ilmu, dan inovasi. Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan tangguh menghadapi perubahan.
Dengan semangat Ramadan sebagai bulan transformasi, ICMI bersama BRIN mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat kolaborasi dan membangun kepemimpinan strategis menuju Indonesia Emas 2045—Indonesia yang berkemajuan, berkeadaban, dan berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.
(red/Maya)



















