Rivalitas Amerika China dan Pentingnya Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Rivalitas global Amerika dan China dinilai dapat memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia.

Artikel, Bisnis, Opini482 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Nandan Limakrisna*

Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping yang belakangan ramai dibahas publik kembali mengingatkan dunia pada meningkatnya rivalitas antara Amerika Serikat dan China. Banyak analis mengaitkan situasi ini dengan konsep Thucydides Trap, yaitu kondisi ketika kekuatan lama merasa terancam oleh kebangkitan kekuatan baru sehingga potensi konflik menjadi sulit dihindari.

banner 336x280

Istilah tersebut berasal dari sejarawan Yunani kuno, Thucydides, yang menjelaskan perang antara Athena dan Sparta sebagai akibat dari ketakutan Sparta terhadap kebangkitan Athena. Dalam konteks modern, sebagian pengamat melihat pola serupa mulai muncul dalam hubungan Amerika dan China.

Pandangan tersebut tentu bukan tanpa dasar. Persaingan teknologi, ekonomi, militer, hingga perebutan pengaruh geopolitik semakin terlihat jelas. Taiwan bahkan sering disebut sebagai titik paling rawan yang dapat memicu konflik terbuka di masa depan.

Namun, bagi Indonesia, pertanyaan yang lebih penting bukanlah siapa yang akan menang dalam rivalitas tersebut. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: apakah Indonesia cukup siap menghadapi dampaknya?

Dalam dunia yang semakin saling terhubung, konflik antarnegara besar tidak hanya berdampak pada aspek militer. Yang terguncang adalah energi, pangan, rantai pasok, investasi, hingga stabilitas ekonomi domestik. Kenaikan harga minyak, gangguan perdagangan global, dan tekanan inflasi dapat langsung dirasakan oleh masyarakat di tingkat bawah.

Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan diplomasi bebas aktif atau kemampuan menjaga keseimbangan geopolitik. Yang jauh lebih penting adalah membangun fondasi ekonomi nasional yang kuat dari dalam negeri sendiri.

Selama ini, ketahanan ekonomi sering dipahami sebatas kemampuan pemerintah menjaga APBN, stabilitas moneter, atau pertumbuhan ekonomi makro. Padahal, dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kekuatan utama suatu negara justru terletak pada daya tahan ekonomi rakyatnya.

Negara yang memiliki rakyat produktif, pasar domestik kuat, serta sistem ekonomi lokal yang hidup akan lebih mampu bertahan dibandingkan negara yang terlalu bergantung pada faktor eksternal.

Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sangat besar untuk membangun kekuatan tersebut. Jumlah penduduk yang besar, kekayaan sumber daya alam, serta jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan fondasi yang sangat strategis. Masalahnya, potensi tersebut belum sepenuhnya terintegrasi dalam satu sistem ekonomi yang saling mendukung.

Dalam konteks ini, diperlukan pendekatan yang mampu membangun ekonomi dari bawah secara terstruktur. Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah Snowball Business Model (SBM).

SBM merupakan model ekonomi berbasis komunitas yang menempatkan masyarakat sebagai produsen, konsumen, dan promotor dalam satu ekosistem ekonomi yang terhubung. Dalam model ini, produk yang dihasilkan oleh masyarakat dikonsumsi oleh masyarakat itu sendiri dan dipromosikan secara kolektif sehingga membentuk pasar yang tumbuh dari dalam negeri.

Dengan pendekatan ini, ekonomi tidak hanya bergantung pada pasar luar negeri atau investasi besar, tetapi bertumpu pada kekuatan masyarakat domestik. Ketika pasar internal kuat, perputaran ekonomi menjadi lebih stabil dan tidak mudah terguncang oleh dinamika global.

Dalam situasi rivalitas global seperti saat ini, pendekatan semacam ini menjadi semakin relevan. Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pertarungan ekonomi dunia, tetapi harus membangun ketahanan internal yang mampu melindungi kepentingan nasional.

Rivalitas Amerika dan China mungkin tidak dapat dihindari. Namun, Indonesia tetap memiliki pilihan: menjadi negara yang ikut terseret arus ketidakpastian global atau menjadi negara yang memiliki fondasi ekonomi rakyat yang cukup kuat untuk bertahan dan tumbuh di tengah perubahan dunia.

Pada akhirnya, kekuatan sejati sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh kemampuan diplomasi atau besarnya cadangan devisa, tetapi oleh kemampuan rakyatnya dalam membangun dan menjaga kehidupan ekonominya sendiri.


*) Nandan Limakrisna adalah Guru Besar Ilmu Manajemen di Universitas Persada Indonesia YAI (UPI YAI) yang menaruh perhatian pada kajian strategi bisnis, pemasaran, serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Ia aktif menulis dan memberikan pemikiran mengenai pemberdayaan UMKM, model bisnis kolaboratif, dan penguatan ekonomi rakyat. Melalui berbagai tulisan dan forum akademik, ia juga memperkenalkan konsep Snowball Business Model (SBM) sebagai pendekatan pengembangan ekosistem ekonomi komunitas. Pemikirannya banyak menyoroti pentingnya sinergi antara industrialisasi nasional dan ekonomi rakyat dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *