INEWSFAKTA.COM | Jakarta, 8-4-2026 – Pasar saham Indonesia tak bisa mengelak dari badai global. Di tengah rupiah yang tertekan menembus Rp17.400 per dolar AS dan ekspor yang menyusut, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian terperosok — sudah minus hampir 18% sejak awal tahun. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar keuangan global. Konflik Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz yang terus memanas mendorong harga minyak mentah dunia melonjak hingga kisaran US$120 per barel, memicu aksi jual masif di bursa-bursa utama dunia. Dow Jones Industrial Average ambruk 557 poin pada 4 Mei 2026.
đź”´ Faktor Utama Penekan Pasar Saham Global
1. Perang AS–Iran & Ketegangan di Selat Hormuz
Ini adalah pemicu terbesar. Tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas menjadi pemicu utama koreksi pada bursa saham. Iran dan AS bersitegang di Selat Hormuz, yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia ke kisaran US$104–US$113 per barel.
Pada 4 Mei 2026, UAE melaporkan telah mencegat sejumlah misil dari Iran — pertama kalinya sistem pertahanan misil UAE diaktifkan sejak gencatan senjata AS–Iran bulan sebelumnya. Ini langsung mengguncang Wall Street: Dow Jones turun 557 poin (1,13%) ke 48.941, S&P 500 turun 0,41%, dan Nasdaq turun 0,19%.
2. Koreksi Saham Semikonduktor di Wall Street
Bursa AS ditutup melemah pada 7 Mei 2026, dipicu koreksi saham Intel dan chip lainnya. Saham Arm Holdings anjlok akibat kekhawatiran pasokan chip AI, sementara Intel dan AMD masing-masing turun sekitar 3%. Indeks semikonduktor PHLX terkoreksi 2,7%.
3. Lonjakan Harga Minyak & Risiko Stagflasi
Brent crude mendekati US$120 per barel, naik sekitar 50% dari level sebelum konflik. The Fed secara eksplisit menyebut guncangan energi ini sebagai risiko inflasi berkelanjutan, sementara indeks harga manufaktur ISM mencapai 84,6 di April — tertinggi sejak April 2022.
đź”´ Dampak ke Pasar Indonesia (IHSG)
Kinerja tiga indeks utama BEI masih merah sejak awal 2026: IDX LQ45 turun 19,35% year-to-date, IDX30 turun 12,92%, IDX80 turun 18,95%, dan IHSG sendiri turun 17,98% YTD.
Dari sisi domestik, tekanan juga datang dari melemahnya rupiah yang menembus Rp17.400 per dolar AS, yang menjadi indikator awal arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Ekspor Indonesia juga turun 3,1% secara tahunan, sementara PMI manufaktur turun ke 49,1 — menandai kontraksi pertama setelah beberapa bulan ekspansi.
Ringkasan Sentimen Negatif
Faktor dan Dampak
* Perang AS–Iran / Selat Hormuz > Harga minyak melonjak, ketidakpastian geopolitik |
* Koreksi saham chip (Intel, AMD, ARM) > Wall Street melemah
* Fed hawkish + inflasi energi > Yield obligasi naik, tekanan likuiditas
* Rupiah melemah ke Rp17.400+ > Arus modal keluar dari RI |
* Ekspor RI turun, PMI kontraksi > Tekanan fundamental domestik |
Secara keseluruhan, ketegangan Timur Tengah menjadi biang utama, dengan efek domino ke harga minyak, inflasi, dan sentimen risiko global.
*** Tulisan ini bertujuan edukasi warga negara dan perbaikan pemerintahan, bila ada koreksi, sanggahan, klarifikasi , silahkan menghubungi redaksi untuk perbaikan.
(Red/HB)














