Maria ibu Yesus dari Nazaret : Apa yang Benar-Benar Tertulis, dan Mengapa Itu Menjadi Perdebatan Berabad-Abad

Berita175 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta, 27-5-2026 – Bulan Mei didedikasikan sebagai Bulan Maria oleh Gereja Katolik. Umat Katolik di seluruh dunia secara khusus menghormati Bunda Maria melalui doa, ziarah, dan devosi selama bulan ini. Bulan Mei simbol Musim Semi & Kehidupan Baru : Secara historis tradisi ini berakar di Eropa, di mana bulan Mei identik dengan puncak musim semi dan mekarnya bunga-bunga. Hal ini menjadi simbol yang pas untuk mengaitkan keindahan alam tersebut dengan Bunda Maria, yang dipandang sebagai ibu segala kehidupan dan bunga rohani yang tak pernah layu.

Sejarah Devosi : Praktik ini dipopulerkan sejak awal abad ke-19. Paus Pius VII pernah bernazar mendedikasikan satu bulan untuk Maria agar dibebaskan dari tahanan Napoleon Bonaparte. Setelah ia dibebaskan, tradisi ini semakin berkembang di berbagai belahan dunia hingga saat ini.

banner 336x280

Doa Rosario : Kegiatan utama yang dilakukan selama bulan Mei adalah Doa Rosario harian, di mana umat merenungkan peristiwa-peristiwa dalam hidup Yesus dan Maria.

 

Sebuah telaah dari sudut ilmu politik dan sosiologi agama.

 

I. Pertanyaan yang Tidak Boleh Ditabukan

 

Di antara semua figur dalam sejarah peradaban manusia, mungkin tidak ada yang mengundang debat sepanjang dan sepanas Maria dari Nazaret — ibu kandung Yesus Kristus. Ia disembah oleh ratusan juta orang Katolik dan Ortodoks di seluruh dunia, dimintai perantaraan doa, diziarahi patungnya, dirayakan dua bulan penuh setiap tahun. Namun di sisi lain, ratusan juta umat Protestan menolak praktik tersebut dan berargumen bahwa tidak ada satu pun perintah dalam Alkitab yang memerintahkan manusia untuk menyembah, memuja, atau memohon kepada Maria.

 

Siapa yang benar ? Pertanyaan ini bukan sekadar urusan teologi. Dari kacamata ilmu politik dan sosiologi agama, jawaban atas pertanyaan ini menyingkap sesuatu yang jauh lebih besar: bagaimana institusi keagamaan membangun otoritas, bagaimana dogma diciptakan melalui keputusan politik, dan bagaimana sebuah figur perempuan yang nyaris senyap dalam teks-teks asli Alkitab kemudian bertransformasi menjadi salah satu objek devosi terbesar dalam sejarah umat manusia.

 

II. Apa yang Benar-Benar Tertulis dalam Alkitab tentang Maria

 

Fakta pertama yang perlu diketahui adalah ini : Maria hadir dalam Alkitab, tetapi kehadirannya jauh lebih terbatas dibanding yang banyak orang bayangkan.

 

Dalam Injil Markus — yang diyakini para ahli sebagai Injil tertua — tidak ada cerita kelahiran Yesus sama sekali, dan catatan tentang Maria di sana tidak bersifat menyanjung. Injil Yohanes bahkan tidak menyebut nama Maria secara langsung. [Alkitab SABDA](https://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=MARIA,+IBU+YESUS)

 

Dalam Injil Lukas, Maria dijuluki Allah sebagai “yang dikaruniai” (Lukas 1:28). Kata “dikaruniai” berasal dari satu kata Yunani yang berarti “berlimpah karunia.” Namun Maria sendiri menyatakan dalam Lukas 1:47, “hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” — sebuah pengakuan bahwa ia pun menyadari membutuhkan Juruselamat, sama seperti manusia lain. [GotQuestions](https://www.gotquestions.org/Indonesia/orang-alkitab-virgin-mary.html)

 

Artinya, dalam teks aslinya, Maria digambarkan sebagai manusia yang dipilih ALLAH untuk peran yang luar biasa — bukan sebagai figur yang menerima pemujaan atau permohonan.

 

Bahkan dalam Injil Yohanes 2:4 dan Matius 12:48-50, Yesus sendiri tidak memberikan penghormatan khusus kepada Maria selama hidupnya di dunia. [Pojok Doa](https://katolisitas.org/penghormatan-terhadap-maria-santa-dan-santo/)

 

Tidak ada satu ayat pun dalam keempat Injil — Matius, Markus, Lukas, Yohanes — yang secara eksplisit memerintahkan manusia untuk menyembah Maria, berdoa kepadanya, atau memohon sesuatu melaluinya. Ini bukan pendapat. Ini adalah fakta tekstual.

 

III. Lalu dari Mana Asal Praktik Pemujaan Maria ?

 

Di sinilah sosiologi agama dan sejarah politik gereja memasuki panggung.

 

Devosi kepada Maria berakar pada sejarah yang sangat panjang. Tulisan-tulisan apokrif — yaitu teks-teks yang tidak masuk dalam kanon resmi Alkitab — seperti Proto Injil Yakobus, melukiskan kisah kelahiran Maria dari pasangan yang sudah berusia lanjut. Santo Ireneus (sekitar 180 M) mengembangkan konsep Maria sebagai kebalikan dari Hawa, menegaskan : “Ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria.” [Parokisantolukas](https://www.parokisantolukas.org/article_detail/700)

 

Titik balik paling menentukan terjadi pada tahun 431 Masehi — bukan dalam ruang doa, tetapi dalam sebuah sidang politik keagamaan.

 

Konsili Efesus (431) digelar bukan semata-mata karena urusan devosi kepada Maria, melainkan sebagai tanggapan terhadap perdebatan teologis yang sudah berkembang sebelumnya — khususnya perdebatan tentang kesatuan kodrat Yesus sebagai Allah dan manusia. Pertanyaan yang menjadi dasar perdebatan adalah: apakah Maria yang melahirkan Yesus Putra Allah itu disebut Bunda Kristus atau Bunda Allah? [Hidupkatolik](https://www.hidupkatolik.com/2017/10/30/14057/peran-maria-dalam-sejarah-gereja.php)

 

Penghormatan kepada Maria dikukuhkan pada tahun 431, ketika penyifatannya sebagai *Theotokos* atau “Bunda ALLAH” ditetapkan sebagai dogma resmi dalam Konsili Efesus. Sejak saat itu, devosi kepada Maria — yang bertumpu pada hubungan mendalam dan rumit antara Maria, Yesus, dan Gereja — mulai berkembang pesat. [Wikipedia](https://id.wikipedia.org/wiki/Gelar-gelar_Maria)

 

Dalam bahasa ilmu politik, Konsili Efesus adalah sebuah keputusan institusional yang diambil oleh elite keagamaan untuk menyelesaikan konflik doktrin internal. Hasilnya kemudian menjadi landasan bagi seluruh bangunan teologi Maria yang berkembang selama berabad-abad sesudahnya.

 

Sampai hari ini, ada empat dogma resmi Gereja Katolik tentang Maria :

1. dogma *Theotokos* dari Konsili Efesus (431),

2. keperawanan abadi Maria dari Konsili Lateran (649),

3. Maria Dikandung Tanpa Dosa Asal melalui konstitusi *Ineffabilis Deus* (1854), dan

4. Maria Diangkat ke Surga melalui ensiklik *Munificentissimus Deus* (1950). [Hidupkatolik](https://www.hidupkatolik.com/2017/10/30/14057/peran-maria-dalam-sejarah-gereja.php)

 

Yang perlu dicatat oleh pembaca :

tidak satu pun dari keempat dogma tersebut adalah bunyi langsung dari teks Alkitab. Semuanya adalah konstruksi teologis yang dibangun oleh institusi gereja selama lebih dari 15 abad.

 

IV. Garis Batas yang Dijaga Ketat: Penghormatan versus Penyembahan

 

Gereja Katolik sendiri sebenarnya menegaskan garis batas yang jelas secara doktrin.

 

Santo Epiphanus (403 M) mengajarkan dengan tegas: “Maria harus dihormati, tetapi Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus harus disembah. Tak seorangpun boleh menyembah Maria.” [Pojok Doa](https://katolisitas.org/sekilas-ajaran-gereja-tentang-bunda-maria/)

 

Dalam terminologi resmi gereja, “menyembah” dalam bahasa Latin adalah *Latria* — penghormatan absolut yang hanya diperuntukkan bagi Allah. Sementara yang diberikan kepada Maria adalah *Hyperdulia* — penghormatan istimewa, bukan penyembahan dalam pengertian teologis. [Parokiserpong-monika](https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/4666-umat-katolik-manyembah-atau-memuji-bunda-maria)

 

Namun dari sudut sosiologi, ada jurang yang lebar antara doktrin resmi dan praktik di lapangan. Ketika jutaan orang berdoa langsung kepada Maria, meminta pertolongannya dalam kesulitan, dan memohon mukjizat melaluinya — pertanyaan tentang apakah batas itu benar-benar terjaga dalam praktik keseharian menjadi sah untuk diajukan.

 

V. Mengapa Protestan Memisahkan Diri dari Tradisi Ini

 

Baru sejak abad XVI, seiring Reformasi Protestan yang dipimpin Martin Luther, muncul penolakan sistematis terhadap devosi kepada Maria. Protestan berpegang pada prinsip *Sola Scriptura* — Kitab Suci saja sebagai otoritas tertinggi. Apa yang tidak tertulis secara eksplisit di Alkitab, tidak mereka terima sebagai ajaran yang mengikat. [Carmelia](https://www.carmelia.net/index.php/artikel/tanya-jawab-iman/116-whats-new-in-15)

 

Gereja Protestan tidak memberikan penghormatan khusus kepada Bunda Maria, dengan pandangan bahwa Yesus sendiri tidak memberikan penghormatan khusus kepada Maria selama hidupnya di dunia. [Pojok Doa](https://katolisitas.org/penghormatan-terhadap-maria-santa-dan-santo/)

 

Perpecahan ini bukan sekadar perbedaan teologis — ia adalah konflik tentang siapa yang berhak mendefinisikan otoritas kebenaran: teks asli Alkitab, atau institusi gereja dengan tradisi dan konsiliumnya.

 

VI. Membaca Fenomena Ini Secara Ilmu Politik dan Sosiologi

 

Dari perspektif sosiologi agama, figur Maria berfungsi sebagai apa yang disebut sosiolog Émile Durkheim sebagai *sacred symbol* — simbol kolektif yang memperkuat kohesi sosial komunitas beriman. Penghormatan kepada Maria menciptakan ritual bersama, identitas kolektif, dan rasa memiliki yang kuat di antara umat Katolik dan Ortodoks.

 

Dari perspektif ilmu politik, proses kanonisasi dogma-dogma Maria — dari Konsili Efesus hingga proklamasi 1950 — menunjukkan bagaimana institusi keagamaan bekerja layaknya lembaga legislatif: mengkonsolidasikan kekuasaan, merespons tekanan internal dan eksternal, serta memproduksi keputusan yang kemudian menjadi hukum yang mengikat jutaan orang.

 

Yang perlu dipahami dengan jernih adalah ini : tidak ada perintah eksplisit dalam teks Alkitab maupun Injil yang memerintahkan manusia untuk menyembah, memuja, atau memohon kepada Maria. Praktik tersebut adalah produk dari sejarah institusi keagamaan — sebuah konstruksi yang dibangun secara bertahap selama lima belas abad melalui konsili, dogma, tradisi, dan kekuasaan gereja. Apakah konstruksi itu sah dan benar adalah keyakinan yang menjadi hak setiap individu untuk diputuskan sendiri — dengan landasan pengetahuan yang jujur, bukan sekadar warisan tanpa pertanyaan.

 

Sumber Literasi :

Alkitab SABDA, *Maria, Ibu Yesus — Studi Kamus*, alkitab.sabda.org. — GotQuestions Indonesia, *Apa kata Alkitab mengenai Bunda Maria?*, gotquestions.org/Indonesia. — Hidupkatolik.com, *Terpujilah Engkau di Antara Wanita* (2014) dan *Peran Maria dalam Sejarah Gereja* (2017), hidupkatolik.com. — Penakatolik.com, *Empat Dogma Maria* (Oktober 2024), penakatolik.com. — Katolisitas.org, *Sekilas Ajaran Gereja tentang Bunda Maria*; *Penghormatan terhadap Maria, Santa dan Santo*; *Sekali lagi kesalahpahaman tentang Bunda Maria*, katolisitas.org. — Carmelia.net, *Gereja Katolik Tidak Menyembah Maria!*; *Apologetika*, carmelia.net. — Paroki Santo Lukas Sunter, *Devosi kepada Bunda Maria*, parokisantolukas.org. — Wikipedia Indonesia, *Gelar-gelar Maria*, id.wikipedia.org. — Paroki Serpong Monika, *Umat Katolik Menyembah atau Memuji Bunda Maria?*, parokiserpong-monika.org. — Jurnal JUMPA, *Konsep Ajaran Iman tentang Maria sebagai Bunda Allah (Theotokos) menurut Telaah Aidan Nichols*, Vol. XII No. 1, April 2024, Sekolah Tinggi Teologi Yakobus.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *