Oleh: Nandan Limakrisna*
Keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen untuk menjaga stabilitas rupiah merupakan langkah yang dapat dipahami dalam situasi global yang penuh tekanan. Ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga energi, serta pergerakan modal internasional memang menuntut respons cepat dari otoritas moneter.
Secara teori ekonomi, kenaikan suku bunga bertujuan menjaga daya tarik aset domestik, menahan arus keluar modal, dan memperkuat nilai tukar rupiah. Dalam jangka pendek, kebijakan ini dapat membantu menciptakan stabilitas pasar dan meningkatkan kepercayaan investor.
Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah stabilitas rupiah cukup dijaga melalui instrumen suku bunga semata?
Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa kebijakan moneter memiliki keterbatasan jika tidak didukung oleh fondasi ekonomi domestik yang kuat. Suku bunga dapat menahan tekanan sementara, tetapi tidak otomatis membangun daya tahan ekonomi jangka panjang.
Bahkan, kenaikan suku bunga juga memiliki konsekuensi yang tidak ringan. Biaya pinjaman meningkat, akses pembiayaan menjadi lebih mahal, dan pelaku usaha kecil serta UMKM sering menjadi pihak yang paling terdampak. Dalam kondisi tertentu, ekonomi bawah justru dapat melambat akibat tingginya biaya modal.
Di sinilah pentingnya melihat persoalan rupiah secara lebih mendasar.
Kekuatan mata uang suatu negara bukan hanya ditentukan oleh kebijakan moneter, tetapi juga oleh kuat atau lemahnya struktur ekonomi nasional. Negara yang memiliki ekonomi domestik yang sehat, pasar internal yang kuat, serta sektor riil yang hidup cenderung memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap gejolak global.
Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk membangun ketahanan tersebut. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, jutaan UMKM, dan pasar domestik yang luas, Indonesia memiliki potensi untuk memperkuat ekonomi dari dalam negeri sendiri.
Namun potensi tersebut belum sepenuhnya terintegrasi dalam satu sistem ekonomi yang saling menguatkan. Banyak pelaku usaha kecil masih berjalan sendiri-sendiri, menghadapi pasar yang terbatas, dan belum memiliki ekosistem ekonomi yang kokoh.
Akibatnya, setiap tekanan global cepat memengaruhi kondisi domestik, termasuk nilai tukar rupiah.
Karena itu, menjaga rupiah seharusnya tidak hanya dilakukan melalui kebijakan suku bunga, tetapi juga melalui penguatan ekonomi rakyat. Ketika ekonomi bawah hidup, UMKM berkembang, dan pasar domestik bergerak kuat, maka ketahanan ekonomi nasional akan meningkat secara alami.
Dalam konteks ini, diperlukan model ekonomi yang mampu memperkuat hubungan antar pelaku ekonomi masyarakat. Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah Snowball Business Model (SBM), yaitu sistem ekonomi berbasis komunitas yang mendorong masyarakat menjadi produsen, konsumen, dan promotor dalam satu ekosistem ekonomi yang saling mendukung.
Melalui pendekatan ini, pasar dibangun dari dalam masyarakat sendiri. Produk lokal diserap oleh komunitas lokal, lalu berkembang secara bertahap menjadi kekuatan ekonomi yang lebih besar. Jika diterapkan secara luas, model seperti ini dapat memperkuat sektor riil, meningkatkan daya beli masyarakat, dan mengurangi ketergantungan terhadap faktor eksternal.
Pada akhirnya, stabilitas rupiah tidak cukup dijaga hanya dengan menaikkan suku bunga. Rupiah akan benar-benar kuat jika ditopang oleh ekonomi rakyat yang kuat.
Karena mata uang yang kokoh bukan hanya lahir dari kebijakan moneter, tetapi dari kepercayaan terhadap kekuatan ekonomi bangsa itu sendiri.
*) Nandan Limakrisna adalah Guru Besar Ilmu Manajemen di Universitas Persada Indonesia YAI (UPI YAI) yang menaruh perhatian pada kajian strategi bisnis, pemasaran, serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Ia aktif menulis dan memberikan pemikiran mengenai pemberdayaan UMKM, model bisnis kolaboratif, dan penguatan ekonomi rakyat. Melalui berbagai tulisan dan forum akademik, ia juga memperkenalkan konsep Snowball Business Model (SBM) sebagai pendekatan pengembangan ekosistem ekonomi komunitas. Pemikirannya banyak menyoroti pentingnya sinergi antara industrialisasi nasional dan ekonomi rakyat dalam pembangunan ekonomi Indonesia.
















