INEWSFAKTA.COM | Jakarta, 4-4-2026 – Di tengah berbagai persoalan pelayanan publik—dari perumahan, keamanan, hingga birokrasi—muncul fenomena sosial yang diam-diam mengakar : masyarakat saling menyarankan untuk “ tutup mata dan telinga ”. Sebuah sikap yang tampak pragmatis, seolah menjadi jalan aman untuk menghindari konflik dengan sistem yang dianggap sulit ditembus. Namun di balik itu, ironi justru mengemuka. Keluhan tidak pernah benar-benar hilang—ia berpindah ruang, dari ranah publik ke percakapan privat, dari forum resmi ke obrolan antarwarga. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan cerminan kondisi psikologis dan sosial yang lebih dalam : ketika harapan terhadap perubahan melemah, tetapi pengalaman ketidakadilan terus berulang di kehidupan sehari-hari.
Dalam banyak konteks—termasuk pelayanan perumahan, birokrasi, dan keamanan—terlihat pola yang berulang :
* Di ruang publik / formal → pasif, menghindar, atau menyarankan diam
* Di ruang privat / informal → aktif mengeluh, berbagi pengalaman negatif
Fenomena ini dalam ilmu sosial bukan hal baru, dan memiliki beberapa penjelasan kuat.
1. Learned Helplessness (Psikologi)
Konsep dari Martin Seligman, menjelaskan :
Ketika seseorang berulang kali menghadapi sistem yang tidak responsif, mereka belajar bahwa :
“ Apa pun yang saya lakukan, hasilnya tetap sama “.
Akhirnya muncul :
* Pasif
* Enggan melapor atau memperjuangkan hak
* Menganjurkan orang lain untuk “diam saja”
Relevansi di masyarakat
Dalam konteks pelayanan publik :
* Pengaduan tidak ditindaklanjuti
* Proses berbelit dan melelahkan
→ menghasilkan keputusasaan kolektif
Literatur :
* Seligman, M. (1975). Helplessness: On Depression, Development, and Death
* Peterson, C. & Seligman, M. (1983)
2. Spiral of Silence (Ilmu Komunikasi Sosial)
Dikemukakan oleh Elisabeth Noelle-Neumann , menjelaskan bahwa
Individu cenderung :
* Diam jika merasa opininya minoritas atau berisiko sosial
* Menghindari konflik atau isolasi sosial
Dampaknya :
* Kritik terhadap sistem tidak muncul ke permukaan
* Seolah-olah semua “baik-baik saja”
Padahal: → keluhan tetap hidup di ruang tertutup (grup kecil, obrolan pribadi)
Literatur :
Noelle-Neumann, E. (1974). The Spiral of Silence
3. Cognitive Dissonance (Psikologi Sosial)
Konsep dari Leon Festinger, menjelaskan
terjadi konflik antara :
* Keyakinan: “Pemerintah seharusnya melayani”
* Realita: “Pelayanan buruk”
Untuk mengurangi ketidaknyamanan mental, individu :
* Menormalisasi keadaan (“ya sudah lah…”)
* Menyarankan diam sebagai mekanisme coping
Namun :
* Ketegangan tetap muncul → dilampiaskan lewat keluhan informal
Literatur :
Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance
4. Normalisasi Penyimpangan (Sosiologi)
Konsep dari Diane Vaughan menjelasan:
Perilaku buruk yang berulang :
* Lama-lama dianggap normal
* Standar kualitas turun secara kolektif
Contoh :
* Pelayanan lambat → “memang begitu”
* Birokrasi berbelit → “sudah biasa”
Dampak :
Masyarakat tidak lagi bereaksi secara sistemik, hanya adaptif.
Literatur :
Vaughan, D. (1996). The Challenger Launch Decision
5. Collective Action Problem (Ilmu Sosial & Politik) oleh Mancur Olson, menjelaskan bahwa semua orang :
* Mengeluh
* Ingin perubahan
Namun tidak ada yang mau memulai aksi karena :
* Risiko tinggi
* Biaya, waktu & tenaga
* Harapan “orang lain saja yang bergerak”
Hasil → Stagnasi kolektif
Literatur:
Olson, M. (1965). The Logic of Collective Action
6. Fear of Retaliation & Social Risk (Psikologi Sosial Modern) Penelitian modern menunjukkan, orang takut:
* Dikucilkan
* Diserang balik
* Dianggap “pembuat masalah”
Terutama dalam komunitas tertutup seperti :
* Apartemen
* Lingkungan kerja
* Organisasi warga
→ Muncul budaya: “Lebih aman diam di depan, bicara di belakang.”
7. Venting Without Agency (Katarsis Sosial)
Fenomena psikologis :
* Mengeluh memberi pelepasan emosi sementara
* Tapi tidak menyelesaikan masalah
Akibatnya :
* Keluhan berulang
* Tanpa perubahan struktural
Ini disebut :
pseudo-participation (partisipasi semu)
Fenomena ini bukan sekadar “kemalasan” atau “ketidaktahuan”, melainkan hasil interaksi kompleks.
Faktor internal (psikologis) :
* Keputusasaan (learned helplessness)
* Penghindaran konflik (cognitive dissonance)
* Kebutuhan pelepasan emosi (venting)
Faktor eksternal (sosial-struktural) :
* Risiko sosial (spiral of silence)
* Normalisasi sistem buruk
* Tidak adanya mekanisme kolektif efektif
Implikasi terhadap Tata Kelola (Governance)
Dalam konteks pelayanan publik dan perumahan. Fenomena ini menghasilkan :
* Low accountability pressure (tekanan rendah pada pemerintah/pengelola)
* Pseudo stability (terlihat stabil, tapi sebenarnya rapuh)
* Reproduksi masalah berulang
“ Diam di depan, mengeluh di belakang ” adalah bentuk : adaptasi psikologis terhadap sistem yang tidak responsif,
yang kemudian menjadi budaya sosial kolektif.
Namun justru :
* memperpanjang siklus masalah
* melemahkan posisi warga sebagai subjek hukum
* dan memperkuat status quo yang tidak sehat
Dalam perspektif ilmu sosial modern, perubahan hanya terjadi jika :
* Keluhan → naik menjadi aspirasi publik terstruktur
* Individu → berubah menjadi aksi kolektif terorganisir
* Emosi → diterjemahkan menjadi mekanisme advokasi formal
1 karya jurnalis dari H.Bataya sebagai upaya edukasi warga dan tanggungjawab sebagai ketua Yayasan Karya Peduli Warga (www.karyapeduli.com) di bidang sosial dan kemanusiaan yang bersumber dari pengamatan dan pelayanan sosial ditambah studi literasi. Bila ada masukan, sanggahan atau koreksi , silahkan menghubungi redaksi untuk perbaikan.
(Red/HB)




















