TNI di Peringkat 13 Pasukan Aktif Terbesar Dunia 2026, Antara Kuantitas dan Kualitas yang Perlu Ditingkatkan

Berita291 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta— Laporan terbaru Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS) yang dirilis melalui The Military Balance 2026 kembali menempatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam daftar elite militer dunia. Menurut data yang dikutip media Tribunnews dari Business Insider, TNI berada di posisi ke-13 dunia dengan 434.000 personel aktif. Posisi ini membuat Indonesia mengungguli negara-negara seperti Brasil, Thailand dan Turki dalam hal jumlah pasukan siap tempur.

Namun, di balik sorotan ranking ini, muncul pertanyaan mendasar : apakah jumlah pasukan aktif saja cukup untuk menjamin kekuatan pertahanan yang sesungguhnya ? Atau justru menutupi kelemahan struktural yang selama ini jarang dibahas secara terbuka ?

banner 336x280

Daftar 20 Militer Terbesar Dunia 2026 Berdasarkan Pasukan Aktif (IISS via Business Insider)

1. China — 2.035.000
2. India — 1.501.000
3. Amerika Serikat — 1.340.000
4. Korea Utara — 1.280.000
5. Rusia — 1.264.000
6. Ukraina — 677.000
7. Pakistan — 660.000
8. Iran — 610.000
9. Ethiopia — 503.000
10. Korea Selatan — 450.000
11. Vietnam — 450.000
12. Mesir — 439.000
13. Indonesia — **434.000**
14. Brasil — 375.000
15. Thailand — 361.000
16. Turki — 355.000
17. Eritrea — 302.000
18. Meksiko — 301.000
19. Kolombia — 285.000
20. Sri Lanka — 260.000

Data ini bersumber dari The Military Balance 2026 milik IISS, lembaga think-tank Inggris yang selama puluhan tahun menjadi rujukan utama para analis pertahanan global. Business Insider menekankan bahwa jumlah pasukan aktif adalah indikator krusial untuk “merebut dan menguasai wilayah”, berbeda dengan reservis atau paramiliter yang nilainya sering dipertanyakan.

Cross-Check dengan Global Firepower : Ada Selisih Angka, tapi Posisi Tetap Elite

Verifikasi silang dengan Global Firepower (GFP) Index 2026, database militer independen yang menilai 145 negara berdasarkan lebih dari 60 faktor. Hasilnya menunjukkan variasi kecil tapi signifikan :

– GFP mencatat pasukan aktif TNI hanya 404.500 orang (peringkat 15).
– Namun dalam ranking kekuatan keseluruhan (PowerIndex), Indonesia justru naik ke peringkat 13 dunia — unggul atas Israel (15) dan Iran (16), serta tetap yang terkuat di Asia Tenggara.

Selisih 30 ribu personel ini mencerminkan perbedaan metodologi: IISS lebih mengandalkan laporan resmi negara, sementara GFP memasukkan estimasi kesiapan operasional. Yang menarik, meski kuantitas pasukan TNI termasuk besar, skor PowerIndex Indonesia (0,2582) masih jauh di belakang Amerika Serikat (0,0741) atau bahkan Rusia (0,0791). Artinya, jumlah tentara saja tidak lagi menentukan siapa “pemenang” di medan perang modern.

Mengapa Angka Besar Belum Cukup ? Investigasi di Lapangan

Hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatan kualitas pertahanan negara :

* Modernisasi yang tertinggal. Meski anggaran pertahanan naik signifikan dalam lima tahun terakhir, sebagian besar masih tersedot untuk gaji dan operasional rutin. Alutsista generasi lama (seperti tank Leopard bekas Jerman dan pesawat tempur F-16 era 1980-an) masih mendominasi. “Kita punya banyak prajurit, tapi tank-nya butuh overhaul setiap tahun,” kata salah satu sumber.

* Doktrin pertahanan semesta vs realitas. Doktrin Hankamrata (Pertahanan Rakyat Semesta) masih diandalkan, tapi dalam praktiknya cadangan (reservist) TNI hanya sekitar 400 ribu — jauh di bawah Vietnam yang memiliki 5 juta reservis. Kualitas pelatihan cadangan ini pun dipertanyakan.

* Geopolitik Indo-Pasifik. Dengan China yang aktif di Laut China Selatan, Indonesia memang perlu jumlah pasukan besar untuk menjaga 17.000 pulau. Namun analis menyebut kelemahan utama justru di angkatan laut dan udara, bukan infanteri darat. “434 ribu tentara tidak berguna kalau kapal perangnya hanya bisa beroperasi di perairan dangkal,” ujar analis lain.

Apa Artinya bagi Indonesia?

Ranking ini memang membanggakan — TNI mengalahkan negara-negara dengan anggaran jauh lebih besar seperti Jepang (peringkat 22 dengan 247.000 personel) dan Prancis (peringkat 23 dengan 204.000). Tapi para pakar memperingatkan: di era drone, cyber warfare, dan satelit, “perang jumlah” sudah mulai usang.

Pemerintah saat ini sedang mendorong program “minimum essential force” dan akuisisi alutsista baru. Namun tanpa transparansi anggaran yang lebih baik dan reformasi manajemen SDM TNI, angka 434.000 ini berisiko menjadi sekadar statistik yang indah di kertas.

Redaksi menanti klarifikasi dari
Kementerian Pertahanan mengenai data IISS dan GFP : Indonesia memang punya pasukan besar, tapi untuk menjadi kekuatan militer yang benar-benar disegani di Asia Tenggara dan Indo-Pasifik, kualitas dan teknologi harus menyusul kuantitas.

*** Tulisan ini disusun berdasarkan laporan Business Insider, dan Global Firepower Index 2026. Data resmi TNI dapat berubah sesuai laporan tahunan pemerintah.
Tulisan ini bertujuan edukasi warga negara dan perbaikan pemerintahan, bila ada koreksi, sanggahan, klarifikasi , silahkan menghubungi redaksi untuk perbaikan.

(Red/RJ)

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *