Kedewasaan Sosial di Tengah Perbedaan : Belajar dari Rajawali dan Pipit

Berita316 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta, 8-4-2026 – Di tengah dinamika masyarakat modern yang semakin kompleks, satu kenyataan tak terbantahkan terus berulang: tidak semua orang cocok berada dalam lingkungan yang sama. Perbedaan pola pikir, nilai, pengalaman hidup, hingga tingkat kesadaran sosial menjadi faktor yang secara alami membentuk batas—bukan untuk memisahkan, tetapi untuk menempatkan.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan juga memiliki akar dalam ilmu sosial, politik, dan psikologi.

banner 336x280

1. Perspektif Ilmu Sosial : Diferensiasi sebagai Keniscayaan

Dalam kajian sosiologi, masyarakat tidak pernah homogen. Emile Durkheim menjelaskan bahwa dalam masyarakat modern terjadi “diferensiasi sosial”, yaitu pembagian peran berdasarkan kemampuan, nilai, dan fungsi individu. Setiap orang memiliki tempatnya sendiri dalam struktur sosial.

Perbedaan ini justru menjadi fondasi stabilitas sosial—selama dipahami dengan benar.

Namun, ketika individu dipaksa untuk berada dalam lingkungan yang tidak sesuai dengan nilai dan kapasitasnya, maka yang muncul adalah :
* konflik relasi
* disfungsi komunikasi
* ketegangan sosial

Dengan kata lain, masalah bukan pada perbedaan itu sendiri, tetapi pada ketidakmampuan menerima perbedaan tersebut.

2. Perspektif Psikologi : Bias Persepsi dan Ilusi Memahami

Dalam psikologi, terdapat konsep “illusion of explanatory depth” (Rozenblit & Keil, 2002), yaitu kecenderungan seseorang merasa memahami sesuatu secara mendalam, padahal pemahamannya dangkal.

Inilah yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari : seseorang berbicara seolah memahami kondisi orang lain—bahkan mengklaim mengetahui keadaan batin orang tersebut—padahal tidak berada dalam posisi yang sama. Hal tersebut mencerminkan fenomena ini :
* seseorang yang ahli di satu bidang (misalnya seni)
* mencoba menilai kondisi psikologis seseorang di bidang lain (misalnya perjuangan birokrasi)
* tanpa memahami konteks, strategi, dan realitas lapangan

Dalam psikologi sosial, ini juga berkaitan dengan :
* fundamental attribution error (Ross, 1977): menilai orang lain berdasarkan asumsi pribadi, bukan situasi nyata
* overconfidence bias : merasa paling benar dalam menilai

Akibatnya :
* muncul salah tafsir
* delegitimasi perjuangan orang lain
* bahkan konflik interpersonal

Padahal, individu yang menjadi objek justru memiliki pemahaman lebih dalam karena pengalaman langsung.

3. Perspektif Politik: Konflik Narasi dan Perebutan Makna

Dalam ilmu politik, terutama dalam kajian politik narasi, realitas tidak hanya ditentukan oleh fakta, tetapi oleh siapa yang menguasai cerita.
Ketika seseorang yang tidak berada dalam perjuangan mencoba mendefinisikan :
“ini gagal”
“ini buntu”
“ini depresi”
maka yang terjadi adalah perebutan makna atas realitas.

Dalam konteks advokasi—termasuk isu perumahan, birokrasi, atau hak warga—ini menjadi sangat krusial :
* narasi yang salah dapat melemahkan legitimasi gerakan
* persepsi publik dapat dibentuk oleh pihak yang tidak memahami substansi

Antonio Gramsci menyebut ini sebagai “hegemoni budaya”, di mana opini yang dominan bisa mengalahkan realitas objektif.

4. Kedewasaan Sosial : Menempatkan Diri, Bukan Menyeragamkan
Di sinilah konsep kedewasaan sosial menjadi penting. Kedewasaan bukanlah :
* membuat semua orang berpikir sama
* memaksakan standar yang seragam

Tetapi :
* memahami posisi diri
* mengenali batas pemahaman
* memilih lingkungan yang sejalan
* menghargai perbedaan peran

Alam sebenarnya telah memberi pelajaran sederhana :
* Rajawali tidak memaksa menjadi pipit
* Pipit tidak mencoba menjadi rajawali
Keduanya tidak saling merendahkan—karena masing-masing memahami fungsi dan ruang hidupnya.

Manusia justru sering gagal di titik ini : memaksakan keseragaman, atau merasa mampu memahami semua hal, bahkan di luar kapasitasnya.

5. Risiko Ketidakdewasaan Sosial
Ketika perbedaan tidak dipahami dengan bijak, maka muncul :
* konflik horizontal
* salah paham struktural
* penolakan sosial
* distorsi realitas perjuangan

Lebih jauh, ini bisa menghambat perubahan sosial karena energi habis untuk konflik internal, bukan untuk tujuan bersama.

Bijak dalam Melihat, Tepat dalam Menempatkan
Kedewasaan sosial bukan soal siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah, melainkan siapa yang lebih tepat berada di tempatnya.
Tidak semua orang harus berjalan bersama. Tidak semua suara harus menyatu. Dan tidak semua penilaian layak dipercaya.

Yang diperlukan adalah :
* kejernihan melihat,
* kerendahan hati memahami, dan
* kebijaksanaan memilih lingkungan.

Karena pada akhirnya, bukan keseragaman yang membuat masyarakat kuat, melainkan harmoni dalam perbedaan.

Sumber Literatur :
1. Durkheim, É. (1893). The Division of Labor in Society.
2. Ross, L. (1977). The Intuitive Psychologist and His Shortcomings.
3. Rozenblit, L., & Keil, F. (2002). The misunderstood limits of folk science: An illusion of explanatory depth. Cognitive Science.
4. Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow.
5. Gramsci, A. (1971). Selections from the Prison Notebooks.
6. Tajfel, H., & Turner, J. (1979). An Integrative Theory of Intergroup Conflict.
7. Berger, P. & Luckmann, T. (1966). The Social Construction of Reality.

1 karya jurnalis dari H.Bataya sebagai upaya edukasi warga dan tanggungjawab sebagai ketua Yayasan Karya Peduli Warga (www.karyapeduli.com) di bidang sosial dan kemanusiaan yang bersumber dari pengamatan dan pelayanan sosial ditambah studi literasi. Bila ada masukan, sanggahan atau koreksi , silahkan menghubungi redaksi untuk perbaikan.

(Red/HB)

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *