🐑 Darah Anak Domba dan Serum Anti Racun Ular : Fakta Ilmiah atau Mitos ?

Berita82 Dilihat
banner 468x60

INEWSFAKTA.COM | Jakarta, 1 Maret 2026 – Ditengah masyarakat, beredar narasi bahwa darah anak domba digunakan sebagai bahan utama pembuatan serum anti racun ular. Narasi ini sering muncul dalam diskusi keagamaan, tradisi simbolik, maupun percakapan awam yang belum terverifikasi secara ilmiah.

Namun bagaimana fakta medis sebenarnya?

banner 336x280

🔬 Bagaimana Serum Anti Racun Ular Diproduksi?

Serum anti racun ular — secara medis disebut antivenom — bukan dibuat dari darah korban atau darah hewan biasa, melainkan dari plasma hewan yang telah diimunisasi dengan racun ular dalam dosis sangat kecil dan terkontrol.

Secara ilmiah, prosesnya melibatkan:

1. Racun ular diekstraksi dari ular berbisa.
2. Racun tersebut disuntikkan dalam dosis kecil kepada hewan tertentu (biasanya kuda atau domba).
3. Hewan tersebut membentuk antibodi terhadap racun.
4. Plasma darah hewan diambil.
5. Antibodi dimurnikan dan diformulasikan menjadi serum.

Menurut penjelasan World Health Organization (WHO), sebagian besar produksi antivenom global menggunakan kuda (equine-derived antivenom), meskipun dalam beberapa kasus digunakan domba (ovine-derived antivenom).

👉 Artinya:
Bukan “darah anak domba” secara mentah yang digunakan, melainkan antibodi hasil respons imun hewan tersebut terhadap racun ular.

🐎 Mengapa Kuda Lebih Umum Digunakan?
World Health Organization menjelaskan bahwa kuda dipilih karena :
* Ukuran tubuh besar → menghasilkan plasma dalam jumlah banyak
* Respons imun kuat
* Lebih efisien secara ekonomi untuk produksi massal

Namun dalam beberapa teknologi modern, domba digunakan untuk menghasilkan antibodi jenis Fab fragments, yang cenderung memiliki risiko reaksi alergi lebih rendah pada manusia.

❓ Lalu Bagaimana dengan “Anak Domba”?

Istilah “anak domba” sering muncul dalam konteks simbolik dan religius. Dalam tradisi tertentu, anak domba melambangkan pengorbanan dan penyelamatan.

Namun dalam konteks medis :
Tidak ada praktik ilmiah menggunakan darah anak domba mentah sebagai penawar racun.
Yang digunakan adalah antibodi hasil imunisasi hewan.
Prosesnya mengikuti standar farmasi ketat.

Tantangan Riset & Arah Masa Depan
* Rekombinan/monoklonal : pengembangan antibodi manusiawi untuk menurunkan reaktogenisitas.
* Oligoklonal cocktails yang menargetkan toksin kunci lintas spesies.
* Assay in vitro pengganti uji hewan untuk standardisasi potensi.
* Akses dan ketersediaan di negara endemik (Asia, Afrika, Amerika Latin).

WHO menempatkan snakebite envenoming sebagai prioritas kesehatan global dengan target peningkatan akses antivenom yang aman dan efektif.

📚 Sumber Resmi dan Rujukan Ilmiah :
1. World Health Organization
WHO Guidelines for the Production, Control and Regulation of Snake Antivenom Immunoglobulins
WHO, 2016 (updated guidance)
2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
Snakebite Treatment and Antivenom Overview
www.cdc.gov
3. U.S. Food and Drug Administration (FDA)
Antivenom Biological Product Information
www.fda.gov
4. The Lancet (2017) – Snakebite envenoming: a neglected tropical disease

🧠 Kesimpulan :
✔ Serum anti racun ular dibuat dari antibodi hewan yang diimunisasi, bukan dari darah mentah.
✔ Kuda adalah hewan paling umum digunakan.
✔ Domba juga dapat digunakan dalam sistem tertentu.
✔ Narasi “darah anak domba” lebih bersifat simbolik daripada ilmiah.

*** Tulisan ini bertujuan edukasi , bila ada koreksi, sanggahan, klarifikasi , silahkan menghubungi redaksi untuk perbaikan.

(Red/HB)

banner 336x280

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *